Rupiah Melemah ke Rp18.188 per Dolar AS, Dipicu Memanasnya Tensi Geopolitik dan Kuatnya Data Ekonomi AS

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 16:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin. Mata uang Garuda melemah 152 poin atau 0,84 persen menjadi Rp18.188 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin. Mata uang Garuda melemah 152 poin atau 0,84 persen menjadi Rp18.188 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.

Jakarta, jentik.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin. Mata uang Garuda melemah 152 poin atau 0,84 persen menjadi Rp18.188 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia. JISDOR tercatat melemah ke level Rp18.171 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.039 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, serangan Israel terhadap sejumlah wilayah strategis di Iran, termasuk Teheran, Tabriz, dan Isfahan, memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia.

“Memanasnya tensi geopolitik pasca serangan Israel ke Iran mengikis harapan berakhirnya konflik yang lebih luas serta mengganggu prospek kelancaran aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas petrokimia di wilayah barat daya Iran serta sejumlah target militer lainnya. Serangan tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik yang disebut-sebut didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menahan diri dari aksi militer lanjutan.

Baca Juga :  Rupiah Tertekan, Prabowo Sebut Warga Desa Tetap Aman karena Tak Bergantung Dolar

Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan sejumlah rudal ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan yang sebelumnya dilakukan Israel di Lebanon. Meski demikian, Trump masih meyakini peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik kawasan tetap terbuka.

Sebelumnya, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan militer Israel melakukan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon, sebagai balasan atas serangan yang diklaim dilakukan kelompok Hizbullah. Berdasarkan laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan tersebut menghantam dua apartemen di kawasan permukiman, tanpa laporan korban jiwa.

Konflik yang terus bereskalasi antara Israel, Hizbullah, dan Iran telah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik global, yang pada akhirnya mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan.

Baca Juga :  Prabowo dan Macron Hadiri Peluncuran France–Indonesia High Level Business Council

Data non-farm payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS menambah 172 ribu lapangan kerja pada Mei, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 85 ribu pekerjaan.

Sementara itu, data April direvisi naik menjadi 179 ribu pekerjaan dari sebelumnya 115 ribu pekerjaan. Tingkat pengangguran AS juga tercatat tetap stabil di level 4,3 persen.
Menurut Ibrahim, data ketenagakerjaan yang kuat memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

“Laporan NFP yang lebih kuat dari perkiraan mendukung argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan menaikkannya, terutama untuk mengantisipasi dampak inflasi akibat kenaikan harga energi,” jelasnya.

Kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah dan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya pada perdagangan hari ini.(asy*)

Berita Terkait

Bank Aladin Syariah Bukukan Laba Rp150,7 Miliar pada 2025, Tumbuh 304,48 Persen
Purbaya Tegaskan Tetap Menkeu, Rupiah Sentuh Rekor Rp18.003 per Dolar AS
JK Kepercayaan Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Peran Negara Kian Besar
Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Harga Timah Global Naik, Indonesia Berpeluang Perkuat Posisi sebagai Pemasok Timah Dunia
Harga BBM Nonsubsidi Solar Turun Mulai 1 Juni 2026, Pertamina Dex dan Dexlite Lebih Murah
Layanan Bank Jambi Cabang Sungai Penuh Kembali Normal, ATM Diperluas dan Mesin CRM Kembali Diaktifkan
Prabowo dan Macron Hadiri Peluncuran France–Indonesia High Level Business Council
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 16:53 WIB

Rupiah Melemah ke Rp18.188 per Dolar AS, Dipicu Memanasnya Tensi Geopolitik dan Kuatnya Data Ekonomi AS

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:49 WIB

Bank Aladin Syariah Bukukan Laba Rp150,7 Miliar pada 2025, Tumbuh 304,48 Persen

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:30 WIB

Purbaya Tegaskan Tetap Menkeu, Rupiah Sentuh Rekor Rp18.003 per Dolar AS

Kamis, 4 Juni 2026 - 21:52 WIB

JK Kepercayaan Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Peran Negara Kian Besar

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:09 WIB

Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Berita Terbaru

Ilustrasi umrah. Foto: Shutterstock

Internasional

Tren Umrah Plus: Ibadah Suci yang Kini Menyatu dengan Wisata Global

Senin, 8 Jun 2026 - 10:41 WIB