JAKARTA, jentik.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendesak aparat penegak hukum mengusut dugaan pembakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. BNPB menemukan 44 area konversi hutan dan perkebunan terbakar melalui pemetaan spasial yang diselaraskan dengan data ATR/BPN.
Kepala BNPB Kristomei Sianturi menyampaikan temuan tersebut di Jakarta, Senin (19/10/2026). Kebakaran melanda sejumlah area, mulai dari perkebunan sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga hutan lindung.
Kristomei menjelaskan, sebagian titik api berada di sekitar perbatasan izin konversi lahan. Kondisi itu mengindikasikan dugaan pembukaan atau perluasan lahan dengan cara membakar. Namun, aparat perlu menyelidiki temuan tersebut untuk memastikan penyebab kebakaran.
Ia meminta penegak hukum mengusut pelaku, baik perorangan maupun perusahaan, agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Percuma juga kita kerja keras selama ini, kalau pemadaman enggak sinkron. Satu orang berusaha memadamkan, satu orang bakar, kan kambuh,” tegas Kristomei.
Ia juga mengajak seluruh pihak memperkuat koordinasi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Sumatera Selatan menjadi satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla, bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BNPB meminta kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menyelaraskan langkah pencegahan serta pemadaman. Kristomei turut mendorong Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mengoptimalkan pembasahan lahan untuk menjaga kelembapan gambut.
Saat ini, ribuan personel gabungan dan helikopter terus memadamkan api. BNPB juga mengevaluasi pengerahan personel dan peralatan untuk memastikan upaya tersebut menekan jumlah titik panas serta mencegah kebakaran meluas. (nr*)









