Iran, jentik.id-Para CEO perusahaan minyak dan gas dunia memperingatkan potensi krisis energi global akibat konflik Iran. Mereka menilai gangguan pasokan jauh lebih besar dari yang terlihat di pasar saat ini.
Para eksekutif menyampaikan peringatan tersebut dalam konferensi energi CERAWeek di Houston, Amerika Serikat. Mereka menilai pasar belum sepenuhnya mencerminkan dampak terganggunya pasokan minyak dan gas.
CEO ConocoPhillips, Ryan Lance, menegaskan dunia tidak bisa kehilangan jutaan barel minyak per hari dan sebagian besar pasokan LNG tanpa dampak besar bagi ekonomi global.
CEO Kuwait Petroleum Corporation, Sheikh Nawaf Al-Sabah, menyebut Iran memicu gangguan besar dengan menutup Selat Hormuz, rute utama ekspor energi dari kawasan Teluk.
Analis energi menyebut situasi ini sebagai guncangan terbesar sejak krisis minyak 1973. Penutupan jalur tersebut memperburuk rantai pasok global dan meningkatkan risiko ekonomi dunia.
Perusahaan energi meningkatkan kewaspadaan. ConocoPhillips meminta perlindungan militer untuk asetnya di Qatar setelah serangan drone menghantam fasilitas energi. Sejumlah perusahaan juga mengevakuasi staf non-esensial.
Harga minyak melonjak tajam. Minyak mentah AS mendekati 100 dollar AS per barel, sementara Brent menembus 112 dollar AS per barel.
CEO Shell menilai masalah utama bukan hanya harga, tetapi ketersediaan pasokan energi bagi konsumen.
Pasokan bahan bakar mulai terdampak, terutama bahan bakar jet, diesel, dan bensin. Sejumlah negara mulai membatasi distribusi energi.
Permintaan energi di Asia meningkat, sementara kapasitas produksi LNG sudah maksimal. Distribusi dari Amerika Serikat ke Asia juga membutuhkan waktu lama.
CEO TotalEnergies, Patrick Pouyanné, menyebut harga bahan bakar melonjak signifikan.
Sejumlah negara mengambil langkah darurat. China menghentikan ekspor produk minyak, sementara Thailand membatasi distribusi bensin.
Pakar geopolitik menilai konflik berpotensi meluas. Analis memperingatkan dampak ekonomi global akan semakin berat jika konflik berlanjut. (nr*)









