Iran, jentik.id-Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai minyak Iran.
Dalam pernyataannya kepada media, Trump tidak lagi hanya membahas isu keamanan atau perang melawan terorisme. Ia justru menegaskan bahwa minyak Iran menjadi target utama. Bahkan, ia membuka kemungkinan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak terbesar milik Iran.
“Preferensi saya adalah mengambil minyaknya,” ujar Trump secara blak-blakan.
Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian dunia. Pasalnya, langkah seperti itu berpotensi memperluas konflik yang sudah berlangsung selama beberapa pekan antara AS, Israel, dan Iran.
Amerika Serikat sendiri terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia. Washington mengirim ribuan pasukan, termasuk unit amfibi dan pasukan elit, untuk mengantisipasi eskalasi konflik yang lebih besar.
Situasi ini berdampak langsung pada pasar global. Harga minyak mentah melonjak dan mendekati USD 115 per barel, seiring kekhawatiran terganggunya pasokan energi dunia.
Trump juga membandingkan rencananya dengan operasi di Venezuela. Saat itu, AS mengambil alih kendali minyak setelah melakukan langkah politik dan militer terhadap pemimpin negara tersebut.
Namun, berbeda dengan Venezuela, rencana di Iran dinilai jauh lebih berisiko. Untuk menguasai minyak Iran, AS kemungkinan harus melakukan invasi dan mengendalikan Pulau Kharg, yang juga menjadi basis penting militer Iran.
Pemerintah Iran langsung merespons keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa rakyat Iran siap menghadapi jika pasukan AS benar-benar masuk ke wilayah mereka.
Di sisi lain, Trump tetap percaya diri. Ia bahkan meremehkan kemampuan pertahanan Iran dan menyebut pasukan AS bisa menguasai wilayah tersebut dengan cepat.
Meski begitu, ia mengakui bahwa operasi seperti ini membutuhkan kehadiran militer dalam jangka waktu tertentu.
Dengan pernyataan yang semakin terbuka dan agresif, situasi global kini berada di titik rawan. Dunia pun menunggu langkah selanjutnya, sambil berharap konflik tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar. (nr*)









