JAKARTA.Jentik.Id– Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz memicu kekhawatiran global. Jalur pelayaran strategis ini diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia dari kawasan Teluk.
Jika terjadi penutupan total di Selat Hormuz, dunia—termasuk Indonesia—berpotensi menghadapi krisis energi. Pasalnya, selat tersebut merupakan jalur utama ekspor minyak dari negara-negara produsen besar seperti Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa ketegangan di kawasan tersebut dapat berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi global akibat potensi krisis energi.
“Masih dalam tahap kajian. Nanti setelah selesai, hasilnya akan disampaikan kepada publik,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026.
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah telah melakukan perhitungan fiskal dengan asumsi harga minyak dunia berada di kisaran 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun.
Pemerintah juga disebut mampu menjaga defisit anggaran di level sekitar 2,9 persen melalui berbagai langkah efisiensi.
Selain itu, negara masih memiliki bantalan fiskal berupa sisa anggaran lebih (SAL) sekitar Rp420 triliun yang dapat digunakan jika terjadi tekanan tambahan.
“Kalau kepepet masih bisa dipakai, tapi kemungkinan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS dalam waktu lama relatif kecil, melihat dinamika politik global, termasuk di Amerika Serikat,” ujar Purbaya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak khawatir terhadap kondisi fiskal pemerintah, karena kapasitas anggaran dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai risiko ke depan.(Red/*).






![Mobil bekas dijual. [sumber : cintamobil.com]](https://jentik.id/wp-content/uploads/2026/04/Harga-Mobil-bekas-225x129.gif)


