JAKARTA, jentik.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terbaru. Data Bloomberg pukul 13.11 WIB mencatat rupiah berada di level Rp 17.601 per dolar AS, turun 72 poin atau 0,41 persen.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah terjadi karena kombinasi faktor eksternal dan internal. Ia menyebut ketegangan geopolitik global dan beban subsidi energi dalam negeri memberi tekanan besar pada mata uang Indonesia.
Geopolitik Dorong Penguatan Dolar
Ibrahim menjelaskan konflik di kawasan Selat Hormuz ikut memicu kekhawatiran pasar. Kondisi itu mendorong harga minyak naik dan memperkuat dolar AS.
Ia mengatakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Situasi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
“Sentimen geopolitik membuat dolar menguat dan rupiah melemah,” ujarnya.
Ibrahim juga memperkirakan rupiah bisa menembus level Rp 18.000 pada Mei jika tekanan berlanjut. Bahkan, ia membuka peluang pelemahan lebih dalam jika kondisi global tidak stabil.
Beban Subsidi Energi Tekan Rupiah
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti besarnya impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Ia menyebut sebagian besar impor itu digunakan untuk subsidi BBM.
Menurutnya, kebutuhan dolar untuk impor energi membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.
“Subsidi energi yang besar ikut menambah tekanan pada mata uang,” kata Ibrahim.
Ia menilai kondisi ini menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah selain faktor global.
BI Dinilai Masih Terbatas Menahan Tekanan
Ibrahim juga menilai intervensi Bank Indonesia di pasar belum cukup kuat menahan tekanan eksternal. Meski begitu, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup stabil karena kepemilikan obligasi didominasi investor domestik.
Ia memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Juni 2026. Kenaikan bisa berada di kisaran 25 hingga 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah.
Faktor Global Masih Dominan
Pengamat pasar uang dari PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, juga melihat tekanan pada rupiah masih kuat dari faktor global.
Ia menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data ekonomi Amerika Serikat yang masih kuat ikut menekan mata uang negara lain.
Ariston menilai data penjualan ritel AS yang naik memperkuat posisi dolar. Kondisi itu membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.
“Indeks dolar menguat dan menekan banyak mata uang,” kata Ariston.
Rupiah masih berada di bawah tekanan akibat kombinasi faktor global seperti geopolitik dan penguatan dolar AS, serta faktor domestik seperti beban impor energi dan subsidi. Pelaku pasar kini menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar ke depan. (nr*)









