MOGADISHU, jentik.id – Konflik bersenjata pecah di Mogadishu, ibu kota Somalia, setelah Presiden Hassan Sheikh Mohamud memperpanjang masa jabatannya.
Pasukan pemerintah dan milisi pendukung oposisi terlibat baku tembak sejak Rabu (3/6/2026) malam. Bentrokan berlanjut hingga Kamis dini hari sebelum mereda setelah kedua pihak memulai negosiasi.
Krisis ini bermula dari rencana aksi protes oposisi yang menolak perpanjangan masa jabatan Presiden Mohamud selama satu tahun. Keputusan itu juga menunda pemilihan umum.
Oposisi menilai presiden berupaya memusatkan kekuasaan. Namun pemerintah membantah tuduhan tersebut.
Sebelumnya, oposisi mengajak masyarakat mengikuti demonstrasi damai. Sementara kepolisian menuding kelompok politik tertentu memicu kekerasan untuk merebut kekuasaan.
Situasi di Mogadishu sempat mencekam. Tembakan dan ledakan terdengar di sejumlah wilayah. Aparat memperketat pengamanan, sementara warga menjauh dari lokasi konflik.
Abdullahi Mohamed, seorang warga, mengatakan rentetan tembakan senjata berat memaksa banyak orang meninggalkan rumah mereka.
Warga lainnya, Ahmed Ismail, menyebut sebuah mortir menghantam rumah tetangganya dan melukai seorang perempuan. Ia juga melihat sebuah rumah di dekat lokasi terbakar akibat serangan tersebut.
Saksi mata lain melaporkan pelaku membakar dua kendaraan lapis baja selama bentrokan.
Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan jumlah korban. Namun sejumlah laporan menyebut warga sipil turut menjadi korban.
Mantan Perdana Menteri Somalia Hassan Ali Khaire mengecam tindakan pemerintah. Ia menuduh aparat menggunakan senjata berat yang seharusnya digunakan untuk melawan kelompok Al-Shabaab.
Menurut Khaire, pemerintah mengarahkan senjata tersebut kepada lawan politik dan warga sipil. Ia juga menuding pemerintah menyerang fasilitas sipil serta memutus pasokan listrik di beberapa wilayah.
Situasi ini memicu perhatian internasional. Uni Afrika meminta semua pihak menahan diri dan menghindari kekerasan.
Uni Eropa dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Mogadishu juga mendorong penyelesaian konflik melalui dialog politik.
Krisis ini menambah daftar panjang masalah yang dihadapi Somalia. Negara itu masih menghadapi ancaman Al-Shabaab, dampak perang saudara, dan ketidakstabilan politik. (nr*)









