WASHINGTON, jentik.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim Amerika Serikat dan Iran segera menandatangani kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Trump menyebut kesepakatan itu akan membuka kembali Selat Hormuz. Selama beberapa bulan terakhir, jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu pusat ketegangan di kawasan.
“Kesepakatan dijadwalkan ditandatangani besok, dan segera setelah itu Selat Hormuz akan terbuka untuk semua,” tulis Trump melalui akun Truth Social, Sabtu (13/6).
Pemerintah Pakistan juga menyampaikan pernyataan serupa. Negara itu berperan sebagai mediator dalam perundingan antara Washington dan Teheran.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengatakan kedua pihak telah menyepakati kerangka awal perdamaian. Islamabad kini menyiapkan proses penandatanganan elektronik sebelum melanjutkan pembahasan teknis pekan depan.
Namun, Iran belum memastikan jadwal penandatanganan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan Iran tidak akan menandatangani kesepakatan itu pada Minggu. Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan proses tersebut berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Baghaei mengatakan Iran masih mencermati perkembangan negosiasi sebelum menentukan jadwal resmi penandatanganan.
Meski berbeda pandangan soal waktu penandatanganan, kedua negara sama-sama mengakui perundingan telah memasuki tahap akhir. Konflik antara kedua pihak berlangsung sejak Februari lalu.
Bahas Selat Hormuz dan Sanksi Ekonomi
Para perunding membahas sejumlah poin penting dalam rancangan nota kesepahaman. Salah satunya pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.
Selain itu, Washington berencana mencairkan aset Iran yang selama ini dibekukan. Pemerintah AS juga mempertimbangkan pelonggaran terhadap ekspor minyak Iran.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut pembukaan Selat Hormuz menjadi syarat utama dalam kesepakatan tersebut.
Program Nuklir Masih Jadi Perdebatan
Meski negosiasi terus berjalan, Amerika Serikat dan Iran masih berbeda pandangan terkait program nuklir.
Washington meminta Teheran menghapus cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi. Sebaliknya, Teheran ingin mempertahankan cadangan tersebut setelah melakukan proses pengenceran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan Iran hanya akan mengencerkan uranium yang diperkaya tinggi di dalam negeri.
Hingga saat ini, para perunding masih membahas persoalan tersebut. Isu program nuklir tetap menjadi salah satu hambatan utama sebelum kedua negara mencapai kesepakatan final. (nr*)









