Merangin, jentik.id-Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Merangin dan Sarolangun masih menyisakan dampak besar bagi warga. Selain kehilangan harta benda, masyarakat kini kesulitan mendapatkan air bersih dan menghadapi akses transportasi yang terganggu.
Di Kecamatan Tiang Pumpung, Kabupaten Merangin, dua desa yang menerima dampak paling parah yaitu Desa Rantau Limau Kapas dan Desa Baru Sungai Sakai.
Pantauan pada Senin (27/4/2026) menunjukkan Desa Rantau Limau Kapas masih dipenuhi lumpur tebal. Warga bergotong royong membersihkan rumah dan jalan dari sisa material banjir.
Lumpur merendam peralatan rumah tangga seperti lemari, meja, kursi, hingga barang elektronik. Banyak alat elektronik rusak dan tidak bisa dipakai lagi.
Seorang warga mengatakan masyarakat masih mengandalkan air sungai untuk membersihkan rumah karena mereka belum memiliki akses air bersih.
“Kami masih memakai air sungai untuk membersihkan lumpur di rumah. Banyak barang elektronik juga rusak total karena terendam air dan lumpur,” ujarnya.
Warga juga mengeluhkan belum masuknya bantuan dasar seperti air bersih, bahan makanan, dan pakaian hingga beberapa hari setelah banjir.
Selain itu, listrik dan jaringan telekomunikasi masih terputus total sehingga aktivitas warga semakin sulit.
Masalah lain yang paling dirasakan warga adalah kondisi jembatan gantung yang rusak parah. Jembatan utama yang menghubungkan antarpermukiman itu kini nyaris putus dan warga tidak bisa melaluinya.
Akibatnya, warga harus memakai perahu tempel untuk menyeberangi Sungai Tembesi. Namun, derasnya arus sungai membuat perjalanan menjadi berbahaya.
Kapasitas perahu yang terbatas juga membuat warga sulit membawa bahan makanan, pakaian, dan air bersih. Anak-anak yang harus menyeberang sungai untuk pergi ke sekolah pun menghadapi risiko tinggi.
Warga berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan gantung agar aktivitas kembali normal dan bantuan bisa masuk lebih cepat.
Kondisi Banjir di Sarolangun Mulai Membaik
Sementara itu, kondisi banjir di Kabupaten Sarolangun mulai membaik.
BPBD Provinsi Jambi menyebut banjir yang terjadi hanya bersifat sementara sehingga air cepat surut dan warga yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan dukungan personel jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
“Kalau memang membutuhkan personel, kami sudah berkoordinasi dengan Korem dan siap menurunkan sekitar 100 personel. Sampai hari ini, permintaan itu belum masuk,” ujarnya.
Meski kondisi mulai membaik, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan debit air, terutama di wilayah hilir.
BPBD juga meminta BPBD Kota Jambi terus memantau tinggi muka air sungai sebagai langkah antisipasi dini.
“Kalau tinggi muka air sudah di atas 17,70 meter, itu menjadi tanda peringatan dan kita harus siap siaga,” pungkasnya. (nr*)









