SUNGAI PENUH, jentik.id – Masyarakat Luhah Rio Mendiho, Sungai Penuh, menggelar penyambutan bambu Karamentang sepanjang 30 meter dengan penuh semangat pada Kamis (11/06/2026). Prosesi berlangsung meriah dengan iringan Sike Negeak Karamentang serta atraksi Pencak Silat anak jantan Rio Mendiho.
Karamentang merupakan bendera pusaka adat yang dipasang menjulang tinggi di lokasi upacara adat. Pusaka ini menandai dimulainya perhelatan Kenduri Sko di Sungai Penuh, tradisi adat terbesar yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Masyarakat mengarak bambu Karamentang sebagai simbol utama persiapan Kenduri Sko. Mereka menegaskan bahwa pusaka ini bukan sekadar bambu, tetapi lambang kebesaran adat dan tanda kuatnya persatuan dalam negeri adat yang menggelar pesta budaya.
Warga juga memaknai Karamentang sebagai simbol marwah adat yang mencerminkan kehormatan depati, ninik mamak, pemangku adat, dan seluruh masyarakat Kerinci.
Masyarakat 6 Luhah Sungai Penuh menjalankan seluruh proses pengambilan hingga pendirian Karamentang secara gotong royong melalui tahapan adat yang sarat nilai budaya dan spiritual.
Secara historis, 6 Luhah Sungai Penuh memegang peran penting dalam struktur adat dan pemerintahan tradisional. Keenam luhah ini menjaga hukum adat, menyelesaikan sengketa, serta mengawal berbagai upacara adat hingga kini.
Dalam kehidupan sosial, 6 Luhah tidak hanya membagi wilayah adat, tetapi juga memperkuat persatuan masyarakat. Warga dari berbagai suku dan keluarga besar terus menjaga ikatan kebersamaan yang diwariskan leluhur.
Tokoh adat menegaskan tegaknya Karamentang sebagai tanda seluruh unsur adat telah bersatu menyukseskan Kenduri Sko. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan melestarikan budaya di tengah arus modernisasi.
Karamentang menjadi penanda dimulainya rangkaian Kenduri Sko, yang meliputi pengukuhan gelar adat, pembersihan pusaka, doa keselamatan negeri, hingga ungkapan syukur masyarakat.
Iringan Sike Negeak Karamentang dan atraksi silat menambah kekhidmatan prosesi tersebut. Masyarakat berharap nilai adat tetap hidup dan menjadi pedoman generasi mendatang sebagai warisan budaya yang terus dijaga. (nr)









