Bank Sentral Belanda Pindahkan Cadangan Emas 86 Ton Dari Amerika Serikat

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 11 September 2026 - 19:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bank Sentral Belanda pindahkan cadangan emas 86 ton dari Amerika Serikat.

Bank Sentral Belanda pindahkan cadangan emas 86 ton dari Amerika Serikat.

Jakarta, jentik.id– Kepercayaan sejumlah negara Eropa terhadap Amerika Serikat (AS) sebagai lokasi penyimpanan cadangan emas mulai menghadapi tantangan.

Sejumlah bank sentral Eropa kini memindahkan sebagian cadangan emas mereka dari AS ke lokasi lain di Eropa, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Salah satu langkah terbaru dilakukan De Nederlandsche Bank (DNB), bank sentral Belanda, yang memindahkan sekitar 86 ton emas dari New York ke London, Inggris.

Keputusan tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya perhatian pemerintah dan bank sentral Eropa terhadap lokasi penyimpanan aset strategis, khususnya terkait kemudahan mengakses cadangan emas ketika terjadi krisis.

DNB menyebut faktor “gejolak geopolitik” menjadi salah satu pertimbangan. Bank sentral Belanda menilai penyimpanan emas di beberapa yurisdiksi dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi situasi krisis.

Langkah serupa sebelumnya dilakukan Prancis. Bank of France menarik seluruh kepemilikan emasnya yang tersisa dari Federal Reserve Bank of New York antara Juli 2025 hingga Januari 2026.

Namun, Gubernur Bank of France François Villeroy de Galhau ketika itu menegaskan keputusan tersebut tidak bermotif politik.

Di Jerman dan Italia, sejumlah politikus juga mulai menyerukan agar sebagian cadangan emas negara mereka dipindahkan dari AS. Kedua negara tersebut masing-masing memiliki cadangan emas terbesar kedua dan ketiga di dunia.

Kekhawatiran Geopolitik
Perhatian terhadap penyimpanan cadangan emas di AS meningkat di tengah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai sulit diprediksi serta hubungan AS-Uni Eropa yang menghadapi sejumlah ketegangan.

Salah satu isu yang turut menjadi sorotan adalah retorika Trump terkait Greenland yang berada di bawah Kerajaan Denmark.
Sebastien Tillett, analis Oxford Economics, menilai risiko penyitaan langsung terhadap cadangan emas yang disimpan bank sentral Eropa di AS relatif kecil.

Namun, menurutnya, persoalan yang lebih relevan adalah kemungkinan suatu aset sulit diakses dalam kondisi ekstrem akibat sanksi, persoalan hukum, maupun konflik geopolitik.

Baca Juga :  Iran vs AS Kian Panas, USS Abraham Lincoln Diklaim Diserang

“Kekhawatiran yang lebih relevan adalah bahwa aset yang disimpan di yurisdiksi lain bisa tidak dapat diakses untuk sementara waktu dalam situasi ekstrem yang melibatkan sanksi, persoalan hukum, atau geopolitik,” ujarnya.

Bank Sentral Dunia Borong Emas
Fenomena tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara.

Krishnan Gopaul dari World Gold Council mengatakan bank sentral di seluruh dunia telah meningkatkan akumulasi emas sejak krisis keuangan global 2008. Selain jumlah kepemilikan, perhatian terhadap lokasi dan mekanisme penyimpanan emas juga semakin besar.

Survei terbaru World Gold Council menunjukkan bank sentral secara rata-rata mengakumulasi sekitar 1.000 ton emas per tahun selama empat tahun terakhir. Angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata sekitar 500 ton per tahun dalam satu dekade sebelumnya.

Emas semakin dipandang sebagai aset lindung nilai setelah dunia menghadapi krisis keuangan global 2008, krisis utang zona euro, pandemi, berbagai krisis politik, serta konflik dan ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.

Menurut Gopaul, kondisi tersebut membuat pengelolaan cadangan emas menjadi semakin strategis.
Keputusan Belanda dan Prancis memindahkan emas dari AS ke Eropa juga menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap lokasi penyimpanan cadangan.

Tujuannya agar emas dapat dimobilisasi secara cepat apabila terjadi krisis.
London Jadi Pilihan
Menariknya, Belanda memilih London sebagai lokasi pemindahan cadangannya, bukan mengembalikannya ke dalam negeri.

Gopaul menilai keputusan tersebut berkaitan dengan posisi London sebagai salah satu pusat perdagangan emas paling likuid di dunia.
“London pada dasarnya adalah jantung pasar emas. Aktivitas perdagangan di sana sangat tinggi dan pasarnya sangat likuid,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut memungkinkan emas lebih mudah dimobilisasi ketika terjadi situasi darurat.

Bank of England sendiri merupakan salah satu institusi penyimpanan emas terbesar di dunia. Diperkirakan sekitar 400.000 batangan emas tersimpan di fasilitas tersebut dengan nilai mencapai sekitar 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp4,75 kuadriliun.

Baca Juga :  Iran Tutup Selat Hormuz, Ketegangan dengan AS Kian Memanas

Bagi sejumlah institusi Eropa, menyimpan emas di London memberikan keuntungan karena berada dekat dengan salah satu pusat perdagangan emas terbesar dunia.

AS Masih Jadi Tempat Penyimpanan Utama
Meski terjadi pemindahan cadangan emas, AS masih menjadi salah satu lokasi utama penyimpanan emas negara-negara Eropa.

Jerman, misalnya, telah memindahkan sekitar 300 ton emas dari AS kembali ke Jerman pada periode 2013–2017. Namun, Bundesbank masih menyimpan lebih dari 1.000 ton cadangan emasnya di AS.

Dalam pernyataan sebelumnya, Bundesbank menegaskan bahwa pihaknya masih mempercayai Federal Reserve Bank of New York sebagai mitra penyimpanan cadangan emas.

“Kami tidak meragukan bahwa New York Fed merupakan mitra yang dapat dipercaya dan diandalkan untuk menyimpan cadangan emas kami,” demikian pernyataan Bundesbank.

Di sisi lain, perhatian terhadap aset yang tersimpan di AS tidak hanya terjadi pada cadangan emas.
Pengelola dana kekayaan negara Norwegia yang memiliki aset sekitar 2,3 triliun dolar AS juga menyatakan perlunya mengurangi kepemilikan surat utang pemerintah AS secara signifikan.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kondisi pasar obligasi pemerintah AS, termasuk inflasi dan meningkatnya utang pemerintah yang berpotensi mendorong kenaikan biaya pinjaman.

Tillett menilai emas tetap sensitif terhadap kebijakan Federal Reserve AS. Kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan AS secara keseluruhan juga dapat mendorong pemilik cadangan untuk mempertimbangkan kembali lokasi penyimpanan aset mereka.

Meski demikian, pemindahan cadangan emas bukanlah keputusan sederhana. Emas fisik membutuhkan proses pengamanan, transportasi, penyimpanan dan administrasi yang kompleks, berisiko serta membutuhkan biaya besar.

Karena itu, keputusan bank sentral untuk memindahkan emas tidak semata-mata berkaitan dengan kepercayaan terhadap suatu negara, tetapi juga menyangkut strategi diversifikasi, likuiditas, akses terhadap pasar dan kemampuan memobilisasi cadangan ketika krisis terjadi.(asy*)

 

Berita Terkait

Pendapatan Negara RAPBN 2027 Naik Rp9,1 Triliun, Penerimaan Pajak Bertambah Rp2 Triliun
Penerbangan Di Bandara Soetta Ditutup Sementara Imbas Abu Erupsi Anak Krakatau
Auto Care Kenalkan Teknologi Touchless Shampoo, Kinclong Tanpa Risiko Baret
Wakapolres Kerinci Pantau SPBU, Pastikan Penyaluran BBM Bersubsidi Tepat Sasaran
DPRD Sungai Penuh Sidak SPBU Playang Raya, Soroti Dugaan Pungutan Liar Nomor Antrian Isi BBM
Wali Kota Alfin Resmikan Gen Auto Care Anak Perusahaann, PT Tren Gen Hurizon
Inflasi AS Belum Jinak, Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga
Purbaya Sebut PFII Belum Mendesak Dibangun di IKN karena Kawasan Masih Sepi
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:01 WIB

Bank Sentral Belanda Pindahkan Cadangan Emas 86 Ton Dari Amerika Serikat

Senin, 7 September 2026 - 20:30 WIB

Pendapatan Negara RAPBN 2027 Naik Rp9,1 Triliun, Penerimaan Pajak Bertambah Rp2 Triliun

Minggu, 6 September 2026 - 10:14 WIB

Penerbangan Di Bandara Soetta Ditutup Sementara Imbas Abu Erupsi Anak Krakatau

Rabu, 2 September 2026 - 15:38 WIB

Auto Care Kenalkan Teknologi Touchless Shampoo, Kinclong Tanpa Risiko Baret

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:22 WIB

Wakapolres Kerinci Pantau SPBU, Pastikan Penyaluran BBM Bersubsidi Tepat Sasaran

Berita Terbaru

Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi. Lahirlah atlet tembak nasional

Sport

TNI AU Gelar Kompotisi Tembak Di Ikuti 800 Peserta 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 19:36 WIB