Kasus tersebut tidak hanya memunculkan sorotan terhadap produk, tetapi juga menyoroti kemampuan tenaga penjual dalam memberikan edukasi kepada pelanggan. Konsumen menilai kurangnya pemahaman mengenai fitur mobil listrik menjadi salah satu persoalan dalam kasus tersebut.
Chief Operating Officer (COO) PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, mengakui kemampuan tenaga frontliner dalam menjelaskan produk sangat penting. Menurutnya, tenaga penjual harus mampu memahami fitur kendaraan sekaligus memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen.
“Dua hal yang terpenting, yaitu bagaimana menjelaskan produk secara baik ke konsumen, tentunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pelanggan. Yang kedua, tentunya adalah pelayanan yang diberikan oleh si sales atau frontliner,” ujar Fransiscus di Hyundai Gowa Fatmawati, Jumat (21/8/2026).
Hyundai Punya Pelatihan Berjenjang
Fransiscus menjelaskan HMID sudah menyiapkan program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi tenaga penjual. Hyundai membagi pelatihan tersebut ke dalam beberapa tingkatan, mulai dari Certified, Expert, hingga Master.
Program tersebut bertujuan memastikan tenaga penjual memahami produk sebelum mereka berinteraksi langsung dengan konsumen.
Hyundai juga memberikan pelatihan khusus kepada staf baru. HMID mewajibkan staf menjalani onboard training selama satu hingga tiga bulan pertama.
Dalam pelatihan itu, staf mempelajari product knowledge sekaligus cara melayani pelanggan dengan baik.
“Pada dasarnya satu sampai tiga bulan kita punya yang namanya onboard training. Isinya product knowledge dan pembekalan terhadap sikap melayani pelanggan. Nah, itu merupakan standar yang sudah kita berikan,” jelas Fransiscus.
Kasus Viral Jadi Bahan Evaluasi
Meski HMID sudah memiliki standar pelatihan, Fransiscus mengakui masih bisa terjadi perbedaan antara standar perusahaan dan praktik di lapangan.
Kasus IONIQ 5 yang viral menjadi perhatian serius bagi perusahaan. HMID akan menggunakan kasus tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan.
Hyundai berencana mengevaluasi kemampuan teknis dan kesiapan staf diler. Perusahaan ingin memastikan tenaga penjual mampu memberikan penjelasan secara menyeluruh, terutama mengenai fitur kendaraan yang membutuhkan pemahaman khusus.
Salah satu fitur yang menjadi perhatian dalam kasus tersebut berkaitan dengan pengoperasian mobil saat melakukan parkir paralel.
Fransiscus menilai perusahaan harus melihat masalah tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem.
“Balik lagi, kalau tidak ada masalah, maka kita tidak bisa melakukan improvement. Kami melihat permasalahan kali ini sebagai titik awal kita untuk bisa melakukan evaluasi,” tegasnya.
Hyundai Perkuat Edukasi Konsumen
Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya Hyundai meningkatkan pengalaman konsumen. Tenaga penjual tidak hanya perlu menawarkan kendaraan, tetapi juga harus mampu menjelaskan berbagai fitur secara jelas.
Hal tersebut semakin penting pada kendaraan listrik yang memiliki sejumlah teknologi dan fitur berbeda dari mobil konvensional.
Hyundai ingin memastikan konsumen memahami cara menggunakan fitur kendaraan sejak awal. Edukasi yang lengkap juga dapat membantu pelanggan menghindari kesalahan saat mengoperasikan kendaraan.
Melalui evaluasi ini, HMID akan melihat kembali kesiapan tenaga frontliner di jaringan diler. Perusahaan juga dapat memberikan penyegaran materi apabila menemukan bagian yang masih perlu diperbaiki.
Kasus IONIQ 5 tersebut akhirnya menjadi momentum bagi Hyundai untuk memperkuat standar pelayanan. Perusahaan menilai peningkatan kompetensi tenaga penjual harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi kendaraan dan kebutuhan konsumen. (nr*)









