Padang, jentik.id – Universitas Andalas menggagas pembentukan pusat studi yang fokus pada kajian terowongan dan struktur kompleks bawah tanah sebagai langkah strategis mendukung pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat dan Indonesia.
“Rektor Efa Yonnedi mengatakan, gagasan tersebut lahir dari kebutuhan pembangunan infrastruktur modern yang kerap menghadapi tantangan bentang alam berupa perbukitan dan lembah, terutama dalam pembangunan jalan raya dan jalur transportasi strategis.
“Selama ini kita mengamati proses pembangunan infrastruktur jalan raya selalu terkendala ketika menghadapi bentang alam perbukitan dan lembah. Karena itu, tidak salah apabila ke depan UNAND fokus mengembangkan kajian struktur terowongan,” ujar Efa Yonnedi di Kota Padang, Minggu (24/5).
Menurutnya, pusat kajian tersebut akan dikembangkan melalui kolaborasi dengan Hutama Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat guna memperkuat dukungan terhadap pembangunan infrastruktur strategis nasional.
“Efa menjelaskan, sebelum menggagas pembentukan pusat studi tersebut, dirinya telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak strategis, termasuk Chief Operating Officer (COO) Danantara dan Badan Pengaturan BUMN untuk mendorong keterlibatan UNAND dalam penyusunan master plan pembangunan di Ranah Minang.
Menurut dia, pembentukan pusat kajian itu membuka peluang besar bagi Fakultas Teknik UNAND untuk berkontribusi dalam proyek-proyek infrastruktur strategis, mulai dari pembangunan jalan tol hingga terowongan di wilayah Sumatera Barat dan wilayah Indonesia lainnya.
“Kita bisa menghadirkan pusat studi terowongan dan struktur kompleks yang tidak hanya mendukung pembangunan, tetapi juga menghasilkan riset, publikasi ilmiah, hingga peluang magang dan studi lanjut berbasis riset,” jelasnya.
Saat ini, sejumlah proyek strategis nasional tengah berjalan di Sumatera Barat, di antaranya kelanjutan pembangunan Jalan Tol Padang–Pekanbaru, khususnya seksi Sicincin–Bukittinggi yang nantinya terhubung hingga ke Pekanbaru, Provinsi Riau.
Selain itu, Hutama Karya bersama Kementerian Pekerjaan Umum juga tengah mengerjakan proyek Jalan Layang Sitinjau Lauik dengan nilai investasi mencapai Rp2,793 triliun melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Kolaborasi antara dunia industri dan perguruan tinggi tersebut diharapkan mampu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan, termasuk membuka kesempatan bagi praktisi industri untuk melanjutkan pendidikan magister maupun doktor berbasis riset di UNAND.
Efa menambahkan, alumni Fakultas Teknik UNAND selama ini telah menunjukkan kiprah besar di tingkat nasional, baik sebagai pelaku industri maupun pengambil keputusan strategis di berbagai sektor penting.
“Alumni Fakultas Teknik telah menjadi CEO dan pemimpin yang mempengaruhi sektor energi, keuangan, infrastruktur, dan berbagai sektor strategis lainnya di Indonesia,” tutupnya.(asy*).









