Jakarta, jentik.id-Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (28/5). Pelemahan tersebut menjadi salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian di sektor ekonomi dan pasar keuangan.
Data Bloomberg mencatat rupiah berada di level Rp 17.859 per dolar AS pada pukul 09.21 WIB. Posisi itu melemah 58 poin atau 0,33 persen dan menjadi rekor terendah baru bagi rupiah.
Tekanan terhadap rupiah muncul akibat ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah belum mengganggu kondisi APBN. Pemerintah, menurutnya, sudah menyiapkan langkah antisipasi sejak awal penyusunan anggaran.
Pemerintah juga memasukkan simulasi harga minyak dunia yang lebih tinggi, termasuk asumsi minyak mencapai USD 102 per barel.
Purbaya menegaskan pemerintah belum perlu menghitung ulang APBN. Ia menyebut pasar obligasi masih bergerak stabil karena imbal hasil obligasi pemerintah justru menunjukkan penurunan.
Pada perdagangan siang, tekanan terhadap rupiah kembali meningkat. Data Bloomberg pada pukul 11.54 WIB menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp 17.905 per dolar AS.
Meski demikian, rupiah kemudian bergerak menguat pada pukul 12.17 WIB ke level Rp 17.870 per dolar AS. Posisi itu naik sekitar 65,90 poin atau 0,39 persen dari titik terlemahnya.
Pemerintah terus menjaga stabilitas pasar keuangan melalui berbagai kebijakan dan langkah intervensi agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. (nr*)









