JAKARTA, jentik.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PTPN IV PalmCo mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG) dari limbah sawit sebagai alternatif pengganti LPG. Program ini juga mendukung penguatan ketahanan energi dan transisi energi terbarukan di Indonesia.
Direktur Utama PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyebut limbah sawit kini memiliki nilai ekonomi baru karena bisa diolah menjadi energi bersih.
“Limbah sawit tidak lagi menjadi masalah, tetapi menjadi sumber energi yang mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Limbah Sawit Jadi Sumber Energi
BRIN dan PalmCo mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) serta tandan kosong menjadi biomethana. Gas tersebut kemudian dimurnikan hingga menyerupai gas alam terkompresi (CNG).
Jatmiko menjelaskan Bio-CBG dapat menjadi “kembaran hijau” CNG yang bisa menggantikan LPG dan bahan bakar fosil lainnya.
PalmCo menargetkan pembangunan 17 fasilitas Bio-CBG hingga 2029. Tahun ini, perusahaan menyiapkan delapan proyek baru dengan tahap awal berupa groundbreaking.
Salah satu proyek berjalan berada di Pabrik Kelapa Sawit Tinjowan, Sumatera Utara.
Dorong Energi Bersih dan Kurangi Impor
BRIN menilai pemanfaatan limbah sawit mampu menekan emisi metana sekaligus mengurangi ketergantungan impor LPG. Selain itu, teknologi ini mendukung ekonomi sirkular di sektor perkebunan.
Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Putra, menegaskan bahwa riset ini fokus pada efisiensi dan keberlanjutan pengolahan limbah.
“Kami tidak hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi pengolahan limbah sawit,” katanya.
Produksi Gas Meningkat
Peneliti Energi BRIN, Samuel Pati Senda, mencatat produksi metana di fasilitas PTBg Sei Pagar meningkat dari 36.706 Nm³ per bulan pada 2025 menjadi 46.683 Nm³ pada 2026.
Ia menyebut hasil ini menunjukkan teknologi Bio-CBG sudah siap dikembangkan lebih luas.
“Limbah sawit kini berubah menjadi energi bersih dengan nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Dukung Target Energi Terbarukan
BRIN dan PalmCo menilai Bio-CBG dapat membantu Indonesia mencapai target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen. Program ini juga mendukung pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan limbah industri sawit.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM sebelumnya juga mendorong penggunaan energi gas domestik untuk mengurangi impor LPG dan memperkuat kemandirian energi nasional. (nr*)









