Jakarta, jentik.id-Penyimpanan daging kurban yang tepat menjaga kualitas, kesegaran, dan keamanan dari bakteri. Ahli gizi Mhd. Aldrian dari Universitas Andalas menekankan pentingnya penanganan sejak daging diterima.
Masyarakat perlu segera mengolah atau menyimpan daging dan tidak membiarkannya lebih dari dua jam di suhu ruang. Kondisi itu dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.
Petugas menyarankan pemisahan daging dan jeroan. Jeroan hijau seperti usus dan babat membutuhkan penanganan khusus karena lebih mudah terkontaminasi.
Jika daging terlihat kotor, pengguna dapat membersihkannya dengan air mengalir lalu mengeringkannya menggunakan tisu dapur. Namun, daging bersih tidak perlu dicuci ulang agar tidak menambah kelembapan.
Masyarakat juga perlu menjaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah menyentuh daging mentah untuk mencegah kontaminasi silang di dapur.
Daging sebaiknya disimpan dalam wadah bersih, tertutup, dan berbahan food grade. Wadah tersebut membantu menjaga kualitas dan mencegah cairan daging mencemari makanan lain di kulkas.
Ahli juga menyarankan pembagian daging ke dalam porsi kecil sesuai sekali masak sebelum masuk freezer. Cara ini memudahkan penggunaan dan mengurangi risiko pencairan berulang yang menurunkan kualitas.
Setiap kemasan daging perlu diberi label tanggal penyimpanan agar pengguna dapat menerapkan sistem FIFO (first in, first out) dan menghindari penyimpanan terlalu lama.
Untuk penyimpanan jangka pendek, daging dapat disimpan di chiller dengan suhu sekitar 4°C. Untuk penyimpanan lebih lama, freezer bersuhu -18°C menjaga kualitas daging hingga berbulan-bulan. (nr*)









