Jakarta, jentik.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin. Mata uang Garuda melemah 152 poin atau 0,84 persen menjadi Rp18.188 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.
Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia. JISDOR tercatat melemah ke level Rp18.171 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.039 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, serangan Israel terhadap sejumlah wilayah strategis di Iran, termasuk Teheran, Tabriz, dan Isfahan, memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia.
“Memanasnya tensi geopolitik pasca serangan Israel ke Iran mengikis harapan berakhirnya konflik yang lebih luas serta mengganggu prospek kelancaran aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas petrokimia di wilayah barat daya Iran serta sejumlah target militer lainnya. Serangan tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik yang disebut-sebut didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menahan diri dari aksi militer lanjutan.
Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan sejumlah rudal ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan yang sebelumnya dilakukan Israel di Lebanon. Meski demikian, Trump masih meyakini peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik kawasan tetap terbuka.
Sebelumnya, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan militer Israel melakukan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon, sebagai balasan atas serangan yang diklaim dilakukan kelompok Hizbullah. Berdasarkan laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan tersebut menghantam dua apartemen di kawasan permukiman, tanpa laporan korban jiwa.
Konflik yang terus bereskalasi antara Israel, Hizbullah, dan Iran telah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik global, yang pada akhirnya mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan.
Data non-farm payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS menambah 172 ribu lapangan kerja pada Mei, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 85 ribu pekerjaan.
Sementara itu, data April direvisi naik menjadi 179 ribu pekerjaan dari sebelumnya 115 ribu pekerjaan. Tingkat pengangguran AS juga tercatat tetap stabil di level 4,3 persen.
Menurut Ibrahim, data ketenagakerjaan yang kuat memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Laporan NFP yang lebih kuat dari perkiraan mendukung argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan menaikkannya, terutama untuk mengantisipasi dampak inflasi akibat kenaikan harga energi,” jelasnya.
Kombinasi antara meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah dan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya pada perdagangan hari ini.(asy*)









