Kemhan Ungkap Kronologi Lengkap Meninggalnya 5 Calon Manajer Kopdes Merah Putih saat Diklatsar SPPI

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konferensi pers Kementerian Pertahanan Republik Indonesia terkait evaluasi Latsar SPPI KDKMP, Sabtu (27/6/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Konferensi pers Kementerian Pertahanan Republik Indonesia terkait evaluasi Latsar SPPI KDKMP, Sabtu (27/6/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

JAKARTA, jentik.id – Kementerian Pertahanan (Kemhan) memaparkan kronologi meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diklatsar) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia, mengatakan setiap peserta memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Menurutnya, tim medis menangani seluruh peserta sesuai prosedur ketika mengalami gangguan kesehatan.

Sebelum mengikuti pendidikan, seluruh peserta menjalani pemeriksaan laboratorium darah dan urine, rontgen toraks, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur tubuh, serta kesehatan jiwa.

Ketut menjelaskan, pihaknya menyusun kronologi berdasarkan laporan dari satuan pendidikan dan rumah sakit yang menangani masing-masing peserta.

Yonanda Muhammad Taufik

Yonanda Muhammad Taufik dari Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan pada Rabu (17/6). Saat berjalan bersama peserta lain, pelatih melihat Yonanda kehilangan kesadaran sekitar pukul 17.17 WIB.

Tim kesehatan segera membawa Yonanda ke pos kesehatan lalu merujuknya ke RS dr. Noesmir Baturaja. Dokter memberikan penanganan intensif, namun henti jantung mengakhiri nyawanya pada pukul 18.33 WIB.

Baca Juga :  Mobile Banking Bank Jambi Ditargetkan Kembali Normal Pertengahan 2026

Anisya Musyarofah

Anisya Musyarofah dari Satdik Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan mengeluhkan sesak napas dan mual sebelum mengikuti pembelajaran pada Kamis (18/6).

Tim kesehatan langsung mengevakuasi Anisya ke pos kesehatan, kemudian membawanya ke RS dr. R. Hardjanto Balikpapan. Meski dokter terus memberikan perawatan, kondisi Anisya semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada pukul 19.00 WITA akibat heat stroke.

Novia Ramadani Sitorus

Novia Ramadani Sitorus dari Satdik Pusbahasa Kodiklat Angkatan Udara datang ke unit kesehatan pada Senin (22/6) karena mengalami batuk berdahak, sesak napas, dan demam.

Tim kesehatan memberikan terapi awal, lalu membawa Novia ke RS dr. Esnawan Antariksa setelah kondisinya memburuk. Tim Kesehatan TNI kemudian memastikan pneumonia atau infeksi paru-paru akibat virus menyebabkan kematian Novia, bukan tuberkulosis.

Muhammad Rifki Renaldi Gunawan

Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yonparako 465 Halim Perdanakusuma mengeluhkan sesak napas dan lemas pada Kamis (25/6).

Tim kesehatan memberikan terapi oksigen dan meminta Rifki beristirahat. Setelah kondisinya membaik, Rifki kembali mengikuti kegiatan. Namun sesak napas kembali muncul pada malam hari sehingga tim medis membawanya ke RS Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa.

Baca Juga :  Tak Perlu Tunggu Puluhan Tahun? Menhaj Usulkan “War Tiket” Haji

Dokter terus berupaya menyelamatkan Rifki, tetapi pneumonia yang disertai komplikasi medis merenggut nyawanya pada Jumat (26/6) pukul 00.28 WIB. Riwayat hipertensi dan obesitas ikut menjadi bahan evaluasi tim medis.

Nola Dya Sari

Nola Dya Sari dari Satdik Dodik Bela Negara Kalimantan mengikuti kegiatan belajar tanpa keluhan kesehatan pada Jumat (26/6).

Menjelang malam, Nola mengeluhkan sesak napas dan tubuh terasa panas. Tim kesehatan segera memberikan pertolongan lalu membawanya ke rumah sakit di Singkawang.

Saat menjalani perawatan, Nola mengalami henti jantung. Tim dokter melakukan resusitasi jantung dan kardioversi, tetapi kondisinya tidak membaik hingga akhirnya meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB.

Ketut menjelaskan, Nola memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan meski memiliki kelebihan berat badan. Saat ini Kemhan terus mengevaluasi seluruh temuan medis guna mengetahui penyebab pasti yang memicu kondisi para peserta. (nr*)

Berita Terkait

Heboh Isu Kipas Angin Rp1,8 Triliun, Dirut Agrinas Minta Legislator PDIP Tunjukkan Bukti
Jadwal CPNS 2026 Belum Keluar, Ternyata Pemerintah Masih Hitung Kebutuhan Formasi ASN
Kejagung Bentuk Tim 9 Jaksa untuk Usut Kasus Febrie Adriansyah, Mayoritas Berpengalaman di KPK
Profil Kuntadi Terungkap, Kepala BPA Kejagung yang Berpeluang Jadi Jampidsus Baru
Kuntadi Resmi Diusulkan Jadi Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah ke Istana
Kejagung Lelang 90 Apartemen Mewah Milik Benny Tjokrosaputro, Nilainya Tembus Rp219,7 Miliar
BPOM Tarik 14 Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Zat Pemicu Kanker
Pembayaran Tukin ASN Bakal Lebih Cepat, Kemenag Jadi Percontohan Nasional
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 19:48 WIB

Heboh Isu Kipas Angin Rp1,8 Triliun, Dirut Agrinas Minta Legislator PDIP Tunjukkan Bukti

Kamis, 16 Juli 2026 - 16:40 WIB

Kejagung Bentuk Tim 9 Jaksa untuk Usut Kasus Febrie Adriansyah, Mayoritas Berpengalaman di KPK

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:50 WIB

Profil Kuntadi Terungkap, Kepala BPA Kejagung yang Berpeluang Jadi Jampidsus Baru

Rabu, 15 Juli 2026 - 17:21 WIB

Kuntadi Resmi Diusulkan Jadi Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah ke Istana

Rabu, 15 Juli 2026 - 09:30 WIB

Kejagung Lelang 90 Apartemen Mewah Milik Benny Tjokrosaputro, Nilainya Tembus Rp219,7 Miliar

Berita Terbaru