Driver Ojol “Ngos-ngosan” Kejar Rp150 Ribu, Menanti Janji Potongan 8 Persen dari Pemerintah

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ojol Indonesia

Ojol Indonesia

Jakarta, jentik.id– Nasib driver ojek online (ojol) masih jauh dari kata sejahtera. Di tengah tingginya biaya hidup, banyak pengemudi mengaku harus bekerja seharian penuh hanya untuk mengantongi penghasilan sekitar Rp150 ribu.

Sejumlah driver mengungkapkan, mereka mulai bekerja sejak pagi hingga larut malam. Bahkan, tidak sedikit yang tetap menarik penumpang hingga dini hari demi mengejar target pendapatan harian.

Namun, angka tersebut belum termasuk biaya operasional seperti bahan bakar, makan, hingga perawatan kendaraan.

“Kalau dihitung bersih, kadang tidak sampai segitu,” ujar salah satu driver ojol.

Masalah utama yang dikeluhkan para driver adalah besarnya potongan dari aplikator. Saat ini, potongan disebut bisa mencapai hingga 20 persen dari tarif perjalanan.

Baca Juga :  Angin Segar bagi Pengguna Pertamax, Menkeu Purbaya Optimistis Harga Segera Turun

Kondisi ini membuat penghasilan driver semakin tergerus. Dalam beberapa kasus, penumpang membayar tarif cukup tinggi, namun driver hanya menerima sebagian kecil.

Selain itu, program promo yang sering diberikan aplikator dinilai turut menekan pendapatan driver. Tarif menjadi lebih murah bagi pelanggan, tetapi selisihnya justru dibebankan kepada pengemudi.

Akibat sistem tersebut, banyak driver yang:

Selektif menerima order

Menolak tarif rendah

Mengalami penurunan pendapatan harian

Kondisi ini juga berdampak pada layanan, di mana pelanggan terkadang kesulitan mendapatkan driver, terutama saat jam sibuk.

Para driver kini menaruh harapan pada kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan yang berencana membatasi potongan aplikator maksimal hanya 8 persen.

Baca Juga :  Prabowo Minta Setiap Rupiah Anggaran Negara Beri Manfaat Nyata Untuk Rakyat

Jika kebijakan tersebut diterapkan, driver berpotensi menerima hingga 92 persen dari tarif perjalanan, jauh lebih besar dibanding kondisi saat ini.

Kebijakan ini disebut-sebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026.

Kondisi driver ojol saat ini menggambarkan ketimpangan antara beban kerja dan pendapatan.
Jika potongan aplikator benar-benar ditekan menjadi 8 persen, maka:

Penghasilan driver bisa meningkat

Kesejahteraan lebih terjamin

Layanan ke pelanggan ikut membaik

Namun, implementasi kebijakan ini masih dinantikan oleh para driver di seluruh Indonesia. (ms/*)

Berita Terkait

Teh Kemasan Berbusa Saat Demo Viral, Polisi Telusuri Pihak yang Membagikan
KPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara Triliunan Rupiah dalam Kasus Cukai PT Djarum
Dakwaan Silmy Karim Ungkap Uang Klik, Saham Rp 31 Miliar hingga Biaya Kuliah S3
Amran Bongkar Dugaan Pengoplosan 600 Ton Beras SPHP, Kerugian Capai Rp3,3 Miliar
Amran Bertindak Tegas! 8 Pejabat Bapanas-Bulog Dicopot Buntut Dugaan Penyelewengan Beras SPHP
Kepala BGN Klaim Hemat Anggaran MBG Rp44 Triliun, Tutup 2.000 Dapur Bermasalah
BGN Siapkan Pejabat Daerah Setingkat Kapolres hingga Kapolda, Ini Tugasnya
Mentan Amran Bongkar Dugaan Pengalihan Beras SPHP Jadi Premium di Jakarta Timur
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:42 WIB

KPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara Triliunan Rupiah dalam Kasus Cukai PT Djarum

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Dakwaan Silmy Karim Ungkap Uang Klik, Saham Rp 31 Miliar hingga Biaya Kuliah S3

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Amran Bongkar Dugaan Pengoplosan 600 Ton Beras SPHP, Kerugian Capai Rp3,3 Miliar

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Amran Bertindak Tegas! 8 Pejabat Bapanas-Bulog Dicopot Buntut Dugaan Penyelewengan Beras SPHP

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Kepala BGN Klaim Hemat Anggaran MBG Rp44 Triliun, Tutup 2.000 Dapur Bermasalah

Berita Terbaru