SRI LANKA, jentik.id – Sri Lanka menghadapi lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang cukup serius sejak awal 2026. Hingga pertengahan Juni, otoritas kesehatan mencatat lebih dari 44.000 orang terinfeksi dan puluhan kematian akibat penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti.
Peningkatan kasus terjadi cepat dalam beberapa bulan terakhir. Data dari National Dengue Control Unit menunjukkan jumlah pasien melonjak tajam dan hampir berlipat dalam waktu singkat. Otoritas kesehatan menyebut situasi ini sebagai salah satu wabah terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, kondisi lingkungan memperburuk penyebaran penyakit. Banjir dan dampak siklon pada akhir tahun sebelumnya meninggalkan banyak genangan air dan puing, sehingga menciptakan tempat berkembang biak nyamuk. Urbanisasi yang tidak teratur juga ikut mempercepat penyebaran di kawasan padat penduduk.
Rumah sakit di sejumlah wilayah mulai kewalahan menampung pasien. Pemerintah memperingatkan potensi tekanan lebih besar pada fasilitas kesehatan jika jumlah kasus terus meningkat, terutama di wilayah barat termasuk ibu kota Colombo yang mencatat kasus tertinggi.
Sementara itu, lebih dari separuh kasus terpusat di wilayah tersebut, sementara distrik lain juga melaporkan ribuan kasus baru. Kondisi ini menunjukkan penyebaran DBD telah meluas ke berbagai daerah di Sri Lanka.
Sejak awal tahun, puluhan korban jiwa tercatat, termasuk anak-anak. Pemerintah kemudian memperkuat upaya pengendalian melalui pembersihan lingkungan dan kampanye pemberantasan sarang nyamuk di sekolah, rumah, dan fasilitas umum.
Para ahli kesehatan memperkirakan kasus masih akan bertambah dalam beberapa minggu ke depan, seiring musim hujan yang belum berakhir. Jika tidak terkendali, wabah ini berpotensi menyamai bahkan melampaui lonjakan kasus pada 2019. (nr*)









