Nusa Tenggara Timur, jentik.id-Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat mencapai 47 orang. Tim SAR bersama personel Satuan Brimob Polda NTT terus melakukan evakuasi dan penanganan terhadap masyarakat terdampak.
Personel Kompi 4 Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda NTT diterjunkan untuk mengamankan sekaligus membantu proses evakuasi di Terminal Penumpang Pelabuhan Lorens Say.
Sebanyak 10 personel yang dipimpin Paops Ipda Yohanis Lamahoda turun langsung ke lokasi terdampak. Mereka mengamankan area serta membantu proses evakuasi dari reruntuhan bangunan terminal.
Dalam proses tersebut, petugas menemukan sejumlah korban yang kemudian dievakuasi untuk dilakukan identifikasi dan pendataan.
“Hingga saat ini tercatat tiga korban, dengan dua korban telah teridentifikasi dan satu korban masih dalam proses identifikasi,” kata Dansat Brimob Polda NTT Kombes Afrizal Asri dalam keterangannya, Sabtu (15/8/2026).
“Afrizal mengatakan situasi di lokasi saat ini relatif aman dan terkendali. Kendati demikian, personel tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan tidak memasuki area terminal yang terdampak gempa karena masih berpotensi membahayakan keselamatan.
“Personel Brimob akan terus mendukung proses penanganan bencana bersama instansi terkait demi memastikan keselamatan masyarakat.
“Ya Kami terus bersinergi dalam penanganan pascagempa dan mengutamakan keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Brimob Evakuasi Pengunjung Hotel dan Pasien Rumah Sakit
Respons tanggap bencana juga dilakukan personel Kompi 1 Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda NTT di wilayah Labuan Bajo.
Personel bergerak menuju Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, untuk melakukan patroli sekaligus membantu mengevakuasi pengunjung Hotel Jayakarta yang terdampak kerusakan akibat gempa.
Setelah itu, personel melanjutkan patroli ke RSU Siloam Labuan Bajo. Di rumah sakit tersebut, Brimob membantu proses evakuasi pasien keluar dari gedung serta mendirikan tenda darurat bagi pasien yang masih berada di halaman rumah sakit.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
“Kehadiran personel Brimob merupakan bentuk respons cepat untuk memberikan rasa aman serta membantu proses evakuasi dan penanganan masyarakat terdampak bencana,” kata Afrizal.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan terbaru penanganan bencana gempa bumi di NTT. Hingga pembaruan terakhir, jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan korban tersebar di sejumlah kabupaten.
“Total jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang. Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang dan Ende 1 orang,” kata Berton.
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan rumah warga. Tim gabungan hingga kini masih melakukan pendataan, evakuasi, serta penanganan terhadap warga yang terdampak.
Pemerintah bersama TNI-Polri, Basarnas, BNPB, BPBD dan unsur terkait terus melakukan upaya penanganan di sejumlah titik untuk memastikan keselamatan masyarakat serta mempercepat proses pemulihan pascagempa.(asy*)









