JAMBI, jentik.id – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Jambi terus memperluas layanan pendidikan bagi Suku Talang Mamak dan Suku Anak Dalam (SAD). BPMP menjalankan pembelajaran jarak jauh hingga menyediakan fasilitas penunjang belajar.
Kepala BPMP Provinsi Jambi, Juwita Iranita Lumban Gaol, mengatakan pihaknya telah menjalankan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Program ini membantu anak-anak di wilayah terpencil agar tetap bisa bersekolah.
Pemerintah kabupaten juga mendukung kegiatan tersebut dengan menyediakan lokasi belajar di sekitar permukiman warga.
Minat Sekolah Anak Talang Mamak Cukup Tinggi
Sebagian besar masyarakat Suku Talang Mamak tinggal di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), terutama di Kabupaten Tebo dan Sarolangun.
Juwita menjelaskan, minat anak-anak Talang Mamak untuk mengikuti pendidikan SD dan SMP cukup tinggi. Saat ini, jumlah peserta didik di kedua jenjang tersebut mencapai sekitar 60 orang.
Namun, mereka menghadapi kendala ketika ingin melanjutkan pendidikan ke SMA. Ketiadaan sekolah menengah atas di sekitar permukiman membuat banyak lulusan SMP kesulitan meneruskan pendidikan.
BPMP Salurkan Bantuan Rp150 Juta
Untuk mendukung kegiatan belajar, BPMP Jambi bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyalurkan bantuan pemerintah.
Rinciannya, bantuan sebesar Rp100 juta untuk jenjang SD dan Rp50 juta untuk SMP. Total dukungan tersebut mencapai Rp150 juta.
BPMP memanfaatkan dana itu untuk membeli perangkat internet satelit Starlink, laptop, perlengkapan pembelajaran, serta mengisi koleksi perpustakaan.
Penyediaan fasilitas tersebut bertujuan memperluas akses informasi sekaligus meningkatkan minat belajar anak-anak Talang Mamak.
Siapkan Kelas Bergerak untuk Suku Anak Dalam
Selain memperluas PJJ, BPMP Jambi juga menyiapkan inovasi berupa program kelas bergerak. Program ini menyasar masyarakat Suku Anak Dalam yang memiliki pola kehidupan beragam.
Sebagian warga menetap di satu lokasi, sedangkan sebagian lainnya hidup berpindah-pindah atau nomaden.
Melalui kelas bergerak, tenaga pendidik nantinya akan mendatangi kelompok masyarakat sesuai lokasi mereka. Langkah ini memungkinkan anak-anak tetap mengikuti pendidikan dasar meski keluarga mereka berpindah tempat tinggal.
BPMP Jambi berharap program tersebut membantu anak-anak menyelesaikan pendidikan dan memperoleh ijazah resmi.
Jumlah Anak Tidak Sekolah Turun Menjadi 14 Ribu
BPMP Jambi juga terus berupaya mengurangi angka anak tidak sekolah (ATS) di provinsi tersebut.
Juwita mengungkapkan, jumlah ATS sebelumnya hampir mencapai 25 ribu anak. Namun, kolaborasi dengan pemerintah daerah dari tingkat kecamatan hingga desa berhasil menurunkan angka tersebut menjadi sekitar 14 ribu anak.
BPMP Jambi akan terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah untuk menjangkau anak-anak yang belum mengakses pendidikan.
Juwita berharap program kelas bergerak mampu menjangkau masyarakat Suku Anak Dalam hingga ke wilayah tempat mereka beraktivitas. Dengan demikian, kondisi geografis dan pola hidup nomaden tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan dasar. (nr*)









