JAKARTA, jentik.id – Banyak orang menganggap kurang tidur sebagai hal biasa. Padahal, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, termasuk stroke ringan atau transient ischemic attack (TIA).
Dokter spesialis neurologi Chandana R. Gowda menjelaskan bahwa kurang tidur dalam waktu lama dapat mengganggu sistem tubuh. Kondisi ini memicu peningkatan hormon stres, tekanan darah tidak stabil, peradangan, dan gangguan metabolisme.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko TIA hingga stroke.
TIA terjadi ketika aliran darah ke sebagian otak terhambat sementara. Gejalanya meliputi mati rasa pada satu sisi tubuh, kelemahan, gangguan bicara, penglihatan kabur, atau kebingungan.
Meski gejalanya sering hilang dalam waktu singkat, dokter meminta masyarakat tidak mengabaikannya karena TIA dapat menjadi tanda awal stroke.
Selain itu, kurang tidur juga berkaitan dengan hipertensi, obesitas, dan diabetes. Ketiga kondisi tersebut merupakan faktor risiko utama stroke dan penyakit jantung.
Kebiasaan begadang juga dapat memicu pola hidup tidak sehat. Orang yang kurang tidur cenderung mengonsumsi lebih banyak kafein, kurang bergerak, serta memilih makanan tinggi gula dan lemak.
Gowda juga menyoroti fenomena revenge bedtime procrastination, yaitu kebiasaan menunda tidur demi bermain ponsel, membuka media sosial, atau menonton video.
Untuk mengurangi risiko, dokter menyarankan masyarakat tidur cukup, rutin berolahraga, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, membatasi kafein pada malam hari, serta memeriksa tekanan darah dan kolesterol secara berkala. (nr*)









