Jakarta.jentik.id — Penyakit saraf yang sebelumnya identik menyerang usia lanjut kini mulai banyak dialami kalangan muda usia produktif. Gejala seperti sakit kepala berulang, nyeri tengkuk, kesemutan, kebas, nyeri pinggang bawah hingga stroke ringan maupun berat tidak lagi boleh dianggap sepele.
Para ahli mengingatkan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius, terutama jika keluhan muncul terus-menerus dan disertai gangguan lain seperti pusing, mual, atau kelemahan pada anggota tubuh.
Fenomena ini terlihat dari berbagai kasus yang kini dialami anak muda. Salah satunya dialami perempuan asal Singapura bernama Tan Cheng Hui yang terkena stroke pada usia 26 tahun.
Mengutip laporan Health, Tan awalnya mengalami sakit kepala mendadak saat berada dalam perjalanan menuju stasiun MRT Orchard, Singapura. Rasa sakit muncul sangat hebat di bagian kepala dan leher, kemudian disertai kekakuan pada sisi kiri tubuh, pusing, serta mual hingga ingin muntah.
“Sebelumnya saya memiliki toleransi tinggi terhadap rasa sakit, tetapi serangan ini sangat menyakitkan hingga saya menangis,” ungkapnya.
Melihat kondisinya memburuk, sang pacar segera membawa Tan ke unit gawat darurat terdekat. Dokter kemudian mendiagnosis dirinya mengalami aneurisma otak pecah yang memicu stroke hemoragik atau perdarahan otak.
Aneurisma otak merupakan kondisi munculnya tonjolan menyerupai balon pada pembuluh darah otak yang dapat pecah sewaktu-waktu. Jika pecah, kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan serius dan mengancam nyawa.
Padahal, sebelum kejadian itu Tan merasa dirinya sehat dan aktif berolahraga seperti berjalan kaki, bersepeda, dan berenang. Namun setelah serangan stroke, ia tidak dapat berbicara maupun berjalan selama beberapa minggu dan membutuhkan waktu panjang untuk memulihkan kemampuan dasar tubuhnya.
Ahli bedah saraf Teo Kejia menjelaskan aneurisma otak yang belum pecah umumnya sulit diketahui karena sering tidak menimbulkan gejala.
Menurutnya, banyak kasus aneurisma baru terdeteksi secara tidak sengaja saat pasien menjalani pemeriksaan pencitraan untuk kondisi lain.
Namun ketika ukurannya membesar, aneurisma dapat menekan jaringan otak dan saraf di sekitarnya sehingga memicu gejala seperti sakit kepala, gangguan penglihatan, hingga nyeri wajah.
Tan mengaku baru memahami tingkat keparahan kondisinya setelah mulai pulih dari masa kritis.
“Saya baru menyadari betapa beruntungnya bisa selamat dari pecahnya aneurisma otak,” katanya.
Para ahli mengimbau masyarakat, khususnya anak muda usia produktif, agar tidak mengabaikan sakit kepala yang berulang ulang, maupun gejala saraf lainnya. Pemeriksaan medis sejak dini dinilai penting untuk mencegah kondisi yang lebih berat dan mengancam jiwa.(asy*)









