Jakarta.jentik.id — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut orang tua untuk tidak lagi bersikap pasif. Pemahaman terhadap penggunaan media sosial kini menjadi hal krusial demi melindungi tumbuh kembang anak, baik secara mental maupun emosional.
Pemerintah sendiri telah menerbitkan aturan baru melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Regulasi ini menjadi panduan penting bagi orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak, termasuk batasan usia penggunaan media sosial.
Psikolog klinis anak dan remaja, Gisella Tani Pratiwi, menegaskan bahwa peran orang tua tidak bisa digantikan oleh aturan semata. Ia mengingatkan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak terkait penggunaan media sosial.
“Perlu didiskusikan secara perlahan sesuai usia anak. Aturan yang ada harus menjadi bagian dari percakapan dalam keluarga,” ujarnya.
Menurut Gisella, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak. Dari sisi kognitif, anak yang terlalu sering terpapar konten digital cenderung menjadi kurang analitis, terbiasa dengan hal instan, dan kesulitan menjalani proses.
“Tak hanya batas itu saja, dampak emosional juga menjadi perhatian. Anak bisa mengalami perubahan emosi yang tidak stabil, kesulitan memahami perasaan sendiri, hingga kurang terlatih dalam mengelola emosi.
“Anak juga rentan membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, yang bisa memengaruhi konsep diri dan kepercayaan dirinya,” jelasnya.
Kondisi ini akan semakin berisiko jika anak tidak mendapatkan pendampingan. Tanpa arahan yang jelas, anak bisa kehilangan panutan dalam berperilaku di ruang digital.
Untuk itu, orang tua disarankan mengambil langkah aktif, seperti:
1. Mengawasi penggunaan media sosial sesuai usia
2. Memberikan contoh penggunaan gawai yang sehat
3. Mengajak anak berdiskusi tentang konten digital
5. Menyediakan alternatif kegiatan non-digital yang menyenangkan
Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat membangun konsep diri yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh tekanan dari dunia digital.
Peran orang tua, pada akhirnya, menjadi kunci utama agar anak tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.(asy*)









