Jakarta, jentik.id–Rencana Perum Bulog mengekspor hingga 1 juta ton beras ke sejumlah negara Asia memicu kritik dari DPR RI. Anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo, meminta pemerintah tidak tergesa-gesa melepas stok beras ke pasar internasional.
Firman menilai pemerintah harus menghitung kebijakan ekspor secara matang. Ia menegaskan, keputusan strategis seperti ini berisiko menekan pasokan dalam negeri jika tidak dikendalikan dengan baik. Selain itu, pengalaman masa lalu menunjukkan ekspor beras justru pernah memicu lonjakan harga di pasar domestik.
Ia mengingatkan, Indonesia pernah mengekspor beras sebelum menghadapi cuaca ekstrem. Akibatnya, pemerintah kesulitan memenuhi kebutuhan dalam negeri dan akhirnya harus membuka keran impor. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Firman juga menyoroti dampak El Niño 2023 yang menyebabkan kemarau panjang dan penurunan produksi beras. Menurutnya, fenomena iklim seperti El Niño dan La Niña kini semakin sulit diprediksi dan berpotensi memicu gagal panen.
Karena itu, ia menegaskan pemerintah harus memprioritaskan penguatan cadangan beras nasional. Jika cadangan belum aman, ekspor beras justru berisiko menimbulkan kelangkaan dan kenaikan harga yang langsung membebani masyarakat.
Firman juga menekankan peran Perum Bulog sebagai penyangga pangan nasional. Menurutnya, Bulog tidak hanya berfungsi sebagai pelaku bisnis, tetapi juga harus menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di dalam negeri.
Selain itu, ia mendorong pemerintah meningkatkan produksi beras melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Ia juga meminta penguatan sistem peringatan dini cuaca agar pemerintah dapat merespons ancaman iklim lebih cepat.
Di akhir pernyataannya, Firman mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, Bulog, hingga petani, untuk memperkuat kolaborasi. Ia menegaskan, kebijakan pangan harus berpihak pada rakyat dan tidak bersifat spekulatif. (wn/*)









