Rupiah Tertekan ke Rp17.529, BI Bongkar Penyebab di Balik Pelemahan Ini

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Petugas menghitung uang pecahan dolar AS di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

JAKARTA, jentik.id – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Rupiah turun 115 poin atau 0,66 persen dan ditutup di level Rp17.529 per dolar AS.

Bank Indonesia menyebut tekanan rupiah muncul dari faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan ketidakpastian global menjadi pemicu utama. Konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran pasar.

“Konflik di Middle East masih meningkat dan memicu kenaikan harga minyak serta ketidakpastian global,” kata Destry.

Baca Juga :  IHSG Ambruk Parah! Anjlok 3,54 Persen ke 6.094, Lebih dari 600 Saham Berguguran

Selain faktor eksternal, BI juga mencatat peningkatan permintaan dolar di dalam negeri. Kebutuhan valas naik untuk pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen, dan kebutuhan ibadah haji.

Tekanan tersebut membuat permintaan dolar di pasar domestik ikut meningkat secara musiman.

Meski begitu, BI tetap masuk ke pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral melakukan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF untuk meredam gejolak nilai tukar.

BI juga mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter agar tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.

Baca Juga :  Angin Segar bagi Pengguna Pertamax, Menkeu Purbaya Optimistis Harga Segera Turun

Di sisi lain, BI melihat aliran modal asing masih masuk ke pasar keuangan domestik. Investasi tercatat mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI dengan nilai signifikan selama April 2026.

BI juga mencatat likuiditas valas masih terjaga, terlihat dari pertumbuhan dana pihak ketiga valas yang tetap positif.

Ke depan, BI memperkirakan tekanan musiman akan mereda. Nilai tukar rupiah diharapkan kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi domestik. (nr*)

Berita Terkait

Profil Kuntadi Terungkap, Kepala BPA Kejagung yang Berpeluang Jadi Jampidsus Baru
Kuntadi Resmi Diusulkan Jadi Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah ke Istana
Kejagung Lelang 90 Apartemen Mewah Milik Benny Tjokrosaputro, Nilainya Tembus Rp219,7 Miliar
BPOM Tarik 14 Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Zat Pemicu Kanker
Pembayaran Tukin ASN Bakal Lebih Cepat, Kemenag Jadi Percontohan Nasional
Tito Karnavian Siapkan Solusi untuk Daerah, Gaji PPPK Tak Boleh Tertunda
Single Salary ASN Jadi Harapan Baru, Kepala BKN Ingin Penghasilan Pensiunan Tak Lagi Anjlok
Ojol Bakal Jadi UMKM? Serikat Buruh Tegas Menolak dan Tuntut Status Pekerja
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:50 WIB

Profil Kuntadi Terungkap, Kepala BPA Kejagung yang Berpeluang Jadi Jampidsus Baru

Rabu, 15 Juli 2026 - 09:30 WIB

Kejagung Lelang 90 Apartemen Mewah Milik Benny Tjokrosaputro, Nilainya Tembus Rp219,7 Miliar

Rabu, 15 Juli 2026 - 07:19 WIB

BPOM Tarik 14 Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Zat Pemicu Kanker

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:20 WIB

Pembayaran Tukin ASN Bakal Lebih Cepat, Kemenag Jadi Percontohan Nasional

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:13 WIB

Tito Karnavian Siapkan Solusi untuk Daerah, Gaji PPPK Tak Boleh Tertunda

Berita Terbaru

Aparatur Sipil Negara (ASN) berkesempatan naik pangkat melebihi atasannya.PP bari.

Pemerintahan

Peraturan Baru, ASN Kini Bisa Naik Pangkat Melebihi Atasan

Rabu, 15 Jul 2026 - 18:08 WIB