Nilai Tukar Rupiah Anjlok ke Level Rp17.304 per Dolar AS, Dipicu Faktor Eksternal

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 23 April 2026 - 16:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, jentik.id–Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/04/2026). Hingga pukul 13.32 WIB, rupiah turun 123 poin atau 0,72 persen ke level Rp17.304 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.181 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia. Saat ini, harga minyak mentah Brent menyentuh 103 dolar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 98 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi ini berpotensi memperlebar defisit anggaran Indonesia.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh faktor eksternal. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga :  Ribuan Massa Buruh Dari Berbagai Serikat Pekerja Padati Kawasan Monas

Menurut Ibrahim, perundingan yang difasilitasi Pakistan gagal mencapai kesepakatan. Selain itu, Iran tidak menghadiri pertemuan tersebut karena menilai AS telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran itu termasuk penangkapan kapal tanker Iran yang melintas di Selat Hormuz.

“Faktor eksternal menjadi penyebab utama, terutama kegagalan negosiasi antara AS dan Iran yang memicu ketidakpastian pasar,” ujar Ibrahim.

Situasi semakin memanas setelah Iran menyatakan siap menghadapi konflik berkepanjangan dengan AS. Di sisi lain, AS mendorong sejumlah tuntutan. Misalnya, AS meminta Iran tidak menerapkan tarif di Selat Hormuz serta menghentikan pengayaan uranium.

Baca Juga :  Rupiah Tertekan, Prabowo Sebut Warga Desa Tetap Aman karena Tak Bergantung Dolar

Namun demikian, Iran menolak tuntutan tersebut. Iran menilai tuntutan itu melanggar kedaulatan negara. Akibatnya, ketegangan di kawasan terus meningkat dan berdampak pada distribusi energi global.

Hingga saat ini, kapal tanker milik Pertamina dilaporkan belum dapat keluar dari Selat Hormuz. Kondisi ini terjadi karena situasi keamanan yang belum kondusif. Dampaknya, kekhawatiran pelaku pasar ikut meningkat.

Pada akhirnya, kondisi ini semakin menekan rupiah. Selain itu, pasar juga mencermati risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi global. (Red/*)

Berita Terkait

Kemenhaj Pastikan Asuransi Jamaah Wafat Tetap Cair
Sebanyak 1.555 Narapidana Pindah ke Lapas Sengeti, Lapas Jambi Disiapkan Jadi Rutan
Purbaya Kaget Sidak Tanjung Priok, Ribuan Kontainer Tertahan
Tak Lagi Bergantung APBN, BGN Dorong Pembangunan SPPG Lewat CSR dan Kantin Sekolah
Pemkot Sungai Penuh Gandeng BNI, Percepat Transformasi Digital dan Smart City
Rekam Jejak Dino Patti Djalal, Diplomat Senior yang Aktif Soroti Isu Internasional
Teddy Ungkap Dampak Lawatan Prabowo: Investasi Tembus Rp 2.430 Triliun
Adik Jusuf Kalla Alihkan Saham Bukaka Rp195 Miliar ke Dua Putrinya, Struktur Kepemilikan BUKK Berubah
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 08:12 WIB

Kemenhaj Pastikan Asuransi Jamaah Wafat Tetap Cair

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:03 WIB

Sebanyak 1.555 Narapidana Pindah ke Lapas Sengeti, Lapas Jambi Disiapkan Jadi Rutan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:31 WIB

Purbaya Kaget Sidak Tanjung Priok, Ribuan Kontainer Tertahan

Jumat, 5 Juni 2026 - 17:45 WIB

Tak Lagi Bergantung APBN, BGN Dorong Pembangunan SPPG Lewat CSR dan Kantin Sekolah

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:04 WIB

Pemkot Sungai Penuh Gandeng BNI, Percepat Transformasi Digital dan Smart City

Berita Terbaru