Muara Bungo, jentik.id–Seminar I Longevitalogy kelas dasar menengah sukses berlangsung di Hotel Independent, Muaro Bungo, pada 12 hingga 16 Mei 2026. Sebanyak 64 peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan tersebut untuk mempelajari metode penyembuhan dan pengembangan kesehatan melalui Longevitalogy.
Panitia menghadirkan sejumlah guru atau Laoshe berpengalaman. Mereka terdiri dari Ongko Laoshe, Lilik Laoshe, Harijono S. Laoshe dari Surabaya, serta Yennita Tjo Laoshe dari Jambi. Para Laoshe membimbing peserta selama lima hari melalui teori, praktik, dan pelayanan sosial.
Seminar berlangsung setiap malam mulai pukul 18.00 WIB hingga 21.00 WIB. Pada sesi malam, para Laoshe membimbing proses pembukaan cakra peserta secara bertahap. Setelah itu, peserta mengikuti sesi tanya jawab agar lebih memahami materi seminar.
Peserta tidak hanya mempelajari teori. Mereka juga mempraktikkan terapi kepada pasien selama empat hari. Melalui praktik tersebut, peserta memahami teknik dasar Longevitalogy sekaligus menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama.
Pada siang hari, panitia menggelar bakti sosial di Vihara Padmakirti mulai pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB. Dalam kegiatan itu, peserta memberikan pelayanan terapi secara sukarela kepada masyarakat. Warga menyambut kegiatan tersebut dengan antusias karena mereka merasakan manfaat terapi secara langsung.
Panitia menggratiskan seluruh rangkaian seminar dan pelayanan terapi. Mereka membuka kesempatan belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal Longevitalogy tanpa biaya. Semangat utama kegiatan ini ialah membantu sesama dengan kasih sayang dan kepedulian.
Longevitalogy mengajarkan pentingnya cinta kasih, kesabaran, dan ketulusan saat membantu orang lain. Para peserta belajar melayani tanpa mengharapkan popularitas, keuntungan, maupun imbalan pribadi. Melalui pelayanan tersebut, Longevitalogy berupaya menumbuhkan nilai kebaikan dalam kehidupan manusia.
Penemu Longevitalogy, Lin Tze-Hung, menjelaskan bahwa metode ini memanfaatkan tubuh manusia sebagai saluran penerima energi alam semesta. Setelah mengikuti beberapa tahapan kelas, murid dapat membuka cakra mereka. Selanjutnya, mereka meningkatkan kesehatan melalui meditasi dan latihan penyembuhan diri.
Selain meningkatkan kesehatan pribadi, peserta juga dapat membantu kesehatan orang lain melalui metode Longevitalogy. Guru Lin Tze-Chen dan Guru Wei Yu-Feng kemudian mengembangkan ajaran tersebut hingga semakin dikenal di berbagai negara.
Seminar perdana kelas dasar menengah di Muaro Bungo berjalan lancar berkat kerja sama seluruh panitia. Marnis memimpin kepanitiaan sebagai ketua. Yulina menjalankan tugas bendahara, sedangkan Herwani membantu sebagai wakil bendahara. Panitia lain yang turut menyukseskan kegiatan ini ialah Englia, Suryanto, Meliati, Maliana, Purnomo, dan Tijan.
Dalam waktu dekat, panitia berencana membuka terapi center di Muaro Bungo untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan kesehatan awal.
Harijono S. Laoshe menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan belajar bersama di Muaro Bungo. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus mempererat rasa kemanusiaan.
“Kami para guru juga berterima kasih karena mendapat kesempatan belajar bersama dan berbagi ilmu Longevitalogy. Membantu sesama dengan penuh welas asih akan membawa kesehatan rohani dan jasmani. Berlatih, berlatih, dan terus berlatih,” ujarnya. (ms)









