Eks Presiden Kuba Raul Castro Terancam Hukuman Berat Usai Didakwa AS

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 21 Mei 2026 - 20:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden Kuba Raul Castro mengibarkan bendera nasional Kuba dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Alun-Alun Revolusi Havana, Kuba (1/5/2025). Foto: Yamil Lage/AFP

Mantan Presiden Kuba Raul Castro mengibarkan bendera nasional Kuba dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Alun-Alun Revolusi Havana, Kuba (1/5/2025). Foto: Yamil Lage/AFP

Amerika serikat, jentik.id-Pemerintah Amerika Serikat mendakwa mantan Presiden Kuba, Raul Castro, atas kasus pembunuhan terkait penembakan dua pesawat sipil pada 1996. Jaksa AS mengumumkan dakwaan itu pada Rabu (20/5/2026) waktu setempat.

Jaksa AS menilai Raul Castro terlibat dalam operasi militer Kuba yang menembak jatuh dua pesawat milik kelompok anti-Castro, Brothers to the Rescue. Insiden tersebut menewaskan empat orang, termasuk warga Amerika Serikat.

Selain kasus pembunuhan, pemerintah AS menjerat Raul Castro dengan tuduhan konspirasi membunuh warga Amerika dan penghancuran pesawat sipil. Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menegaskan pihaknya akan terus mengejar pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

Baca Juga :  Keributan Final Piala Dunia Berujung Sanksi! Argentina Dijatuhi Skorsing 21 Laga

Pada 1996, Raul Castro menjabat Menteri Pertahanan Kuba. Kini, di usia 94 tahun, ia masih memegang pengaruh kuat dalam politik Kuba.

Presiden AS Donald Trump menyambut dakwaan tersebut. Namun, ia membantah isu mengenai rencana intervensi militer AS ke Kuba. Trump menilai Kuba mengalami tekanan ekonomi dan krisis berkepanjangan.

Baca Juga :  Pentagon Cemas! Separuh Stok Rudal THAAD AS Disebut Sudah Terkuras

Di sisi lain, Pemerintah Kuba menolak seluruh tuduhan dari AS. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyebut dakwaan itu bermuatan politik dan tidak memiliki dasar hukum.

Pemerintah Kuba juga menyatakan militer Kuba melakukan tindakan pembelaan diri karena kedua pesawat memasuki wilayah udara negaranya.

Kasus ini kembali memicu ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Kuba yang sudah berlangsung sejak era Fidel Castro. (nr*)

Berita Terkait

Sekolah Hancur akibat Konflik, 700.000 Anak di Gaza Terancam Kehilangan Masa Depan
Serangan Udara di Tambang Emas Sudan Tewaskan Lebih dari 200 Orang, Pemerintah Buka Penyelidikan
MUI Desak Konser Dibatalkan, Andrea Bocelli Akhirnya Angkat Bicara
Bukan Cuma Rudal Balistik! Intip Deretan Senjata Canggih Milik Houthi Yaman
Dua Penembakan Guncang Afrika Selatan, 27 Orang Tewas
AI Keliru Beri Intelijen, AS Nyaris Intersepsi Kapal China
Kabut Asap Makin Meluas, NASA Ungkap Citra Karhutla Indonesia-Malaysia
Banjir Bandang Nepal dan Tibet Tewaskan 1.130 Orang, Hampir 4.500 Masih Hilang
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Sekolah Hancur akibat Konflik, 700.000 Anak di Gaza Terancam Kehilangan Masa Depan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:59 WIB

Serangan Udara di Tambang Emas Sudan Tewaskan Lebih dari 200 Orang, Pemerintah Buka Penyelidikan

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:57 WIB

MUI Desak Konser Dibatalkan, Andrea Bocelli Akhirnya Angkat Bicara

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Bukan Cuma Rudal Balistik! Intip Deretan Senjata Canggih Milik Houthi Yaman

Minggu, 27 September 2026 - 21:41 WIB

Dua Penembakan Guncang Afrika Selatan, 27 Orang Tewas

Berita Terbaru

Salah satu dapur MBG

Padang Panjang

7 Dapur MBG di Padang Panjang Ditutup

Minggu, 1 Nov 2026 - 11:56 WIB