Jakarta, jentik.id – Penjualan kendaraan sport utility vehicle (SUV) bermesin diesel, Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport, mengalami penurunan sepanjang beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut diduga turut dipengaruhi tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) diesel yang membuat konsumen semakin mempertimbangkan biaya operasional kendaraan.
Perubahan tren pasar kendaraan bermotor mulai terlihat pada 2026. Dua SUV yang selama beberapa tahun menjadi pilihan konsumen tersebut mencatatkan penurunan distribusi, terutama sejak Mei hingga Juli 2026.
Berdasarkan data wholesales yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi Toyota Fortuner pada April 2026 masih mencapai 1.386 unit.
Angka tersebut kemudian turun menjadi 1.224 unit pada Mei.
Penurunan semakin tajam pada Juni dan Juli, dibulan Juli 2026, distribusi Fortuner hanya tercatat 504 unit.
Tren serupa terjadi pada Mitsubishi Pajero Sport. Pada April 2026, distribusi SUV tersebut mencapai 655 unit. Namun, pada Mei turun menjadi 499 unit, kemudian kembali merosot menjadi 364 unit pada Juni dan hanya 254 unit pada Juli.
Jika dirunut sejak awal tahun, distribusi Pajero Sport tercatat sebanyak 831 unit pada Januari, meningkat menjadi 1.262 unit pada Februari, kemudian turun menjadi 621 unit pada Maret. Pada April kembali mencapai 655 unit, sebelum turun berturut-turut menjadi 499 unit pada Mei, 364 unit pada Juni, dan 254 unit pada Juli.
Penurunan penjualan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan tingginya harga BBM diesel dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan harga BBM diesel mulai terasa sejak April dan pada Mei harga sejumlah BBM diesel sempat mencapai sekitar Rp30.000 per liter.
Kondisi harga BBM tersebut dinilai berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam memilih kendaraan. SUV bermesin diesel dengan kapasitas besar membutuhkan pertimbangan lebih dari sisi konsumsi bahan bakar dan biaya operasional.
Toyota juga mengakui kenaikan harga BBM diesel turut memberikan tekanan terhadap penjualan kendaraan diesel.
Tidak hanya Fortuner, penjualan Kijang Innova Reborn diesel juga mengalami penurunan.
Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor Bansar Maduma mengatakan penurunan tersebut diharapkan hanya bersifat sementara. Menurut dia, konsumen membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan harga BBM.
“Mudah-mudahan hanya shock sesaat. Pada saat mereka benar-benar menjalankan atau mengalami kenaikan harga tersebut, kemudian mereka menjalani setiap bulannya, mudah-mudahan mereka bisa beradaptasi, sehingga memberikan confidence buat mereka untuk membeli kendaraan diesel lagi,” ujar Bansar.
Dibandingkan kuartal pertama, penjualan Fortuner disebut mengalami penurunan sekitar 30 persen, sedangkan Innova Reborn diesel turun sekitar 20 persen.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga energi dapat memengaruhi pola konsumsi kendaraan di pasar otomotif. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga pembelian dan fitur kendaraan, tetapi juga biaya penggunaan dalam jangka panjang.
Dengan kondisi tersebut, persaingan kendaraan SUV di pasar Indonesia diperkirakan semakin ketat, terutama dengan hadirnya berbagai model baru yang menawarkan teknologi lebih efisien serta pilihan mesin yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.(asy*)









