JAKARTA, jentik.id – Kementerian Pertahanan (Kemhan) memaparkan kronologi meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diklatsar) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia, mengatakan setiap peserta memiliki kondisi kesehatan yang berbeda. Menurutnya, tim medis menangani seluruh peserta sesuai prosedur ketika mengalami gangguan kesehatan.
Sebelum mengikuti pendidikan, seluruh peserta menjalani pemeriksaan laboratorium darah dan urine, rontgen toraks, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur tubuh, serta kesehatan jiwa.
Ketut menjelaskan, pihaknya menyusun kronologi berdasarkan laporan dari satuan pendidikan dan rumah sakit yang menangani masing-masing peserta.
Yonanda Muhammad Taufik
Yonanda Muhammad Taufik dari Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan pada Rabu (17/6). Saat berjalan bersama peserta lain, pelatih melihat Yonanda kehilangan kesadaran sekitar pukul 17.17 WIB.
Tim kesehatan segera membawa Yonanda ke pos kesehatan lalu merujuknya ke RS dr. Noesmir Baturaja. Dokter memberikan penanganan intensif, namun henti jantung mengakhiri nyawanya pada pukul 18.33 WIB.
Anisya Musyarofah
Anisya Musyarofah dari Satdik Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan mengeluhkan sesak napas dan mual sebelum mengikuti pembelajaran pada Kamis (18/6).
Tim kesehatan langsung mengevakuasi Anisya ke pos kesehatan, kemudian membawanya ke RS dr. R. Hardjanto Balikpapan. Meski dokter terus memberikan perawatan, kondisi Anisya semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada pukul 19.00 WITA akibat heat stroke.
Novia Ramadani Sitorus
Novia Ramadani Sitorus dari Satdik Pusbahasa Kodiklat Angkatan Udara datang ke unit kesehatan pada Senin (22/6) karena mengalami batuk berdahak, sesak napas, dan demam.
Tim kesehatan memberikan terapi awal, lalu membawa Novia ke RS dr. Esnawan Antariksa setelah kondisinya memburuk. Tim Kesehatan TNI kemudian memastikan pneumonia atau infeksi paru-paru akibat virus menyebabkan kematian Novia, bukan tuberkulosis.
Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yonparako 465 Halim Perdanakusuma mengeluhkan sesak napas dan lemas pada Kamis (25/6).
Tim kesehatan memberikan terapi oksigen dan meminta Rifki beristirahat. Setelah kondisinya membaik, Rifki kembali mengikuti kegiatan. Namun sesak napas kembali muncul pada malam hari sehingga tim medis membawanya ke RS Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa.
Dokter terus berupaya menyelamatkan Rifki, tetapi pneumonia yang disertai komplikasi medis merenggut nyawanya pada Jumat (26/6) pukul 00.28 WIB. Riwayat hipertensi dan obesitas ikut menjadi bahan evaluasi tim medis.
Nola Dya Sari
Nola Dya Sari dari Satdik Dodik Bela Negara Kalimantan mengikuti kegiatan belajar tanpa keluhan kesehatan pada Jumat (26/6).
Menjelang malam, Nola mengeluhkan sesak napas dan tubuh terasa panas. Tim kesehatan segera memberikan pertolongan lalu membawanya ke rumah sakit di Singkawang.
Saat menjalani perawatan, Nola mengalami henti jantung. Tim dokter melakukan resusitasi jantung dan kardioversi, tetapi kondisinya tidak membaik hingga akhirnya meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB.
Ketut menjelaskan, Nola memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan meski memiliki kelebihan berat badan. Saat ini Kemhan terus mengevaluasi seluruh temuan medis guna mengetahui penyebab pasti yang memicu kondisi para peserta. (nr*)









