Venezuela, jentik.id – Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) terus melakukan operasi evakuasi di berbagai wilayah terdampak setelah dua gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela.
Hingga Jumat (26/6/2026), petugas masih menyisir puing-puing bangunan yang runtuh untuk mencari korban yang diduga masih terjebak.
Berdasarkan berbagai laporan, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana tersebut telah mencapai sedikitnya 235 orang, dan tidak tertutup bakal bertambah, sementara lebih dari 1.500 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sekitar 2.927 keluarga kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan parah yang ditimbulkan gempa.
Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, mengatakan pemerintah masih terus memperbarui data korban seiring berlangsungnya proses evakuasi di sejumlah lokasi yang paling terdampak.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengungkapkan bahwa hingga kini telah terjadi sedikitnya 30 gempa susulan setelah dua gempa utama mengguncang negara tersebut.
Pemerintah juga menyatakan telah memperoleh dukungan dana darurat sebesar US$200 juta atau sekitar Rp3,26 triliun dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu pemulihan infrastruktur dan pembangunan kembali rumah warga.
Di tengah situasi darurat, bantuan kemanusiaan internasional mulai berdatangan. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memobilisasi tim bantuan ke Venezuela.
IFRC menyebut kebutuhan paling mendesak saat ini meliputi operasi pencarian dan penyelamatan, penyediaan tempat penampungan darurat, layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, serta kebutuhan pokok bagi para penyintas.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan sekaligus Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, mengatakan tim tanggap cepat PBB sedang dipersiapkan untuk memperkuat operasi kemanusiaan di Venezuela.
Menurut Fletcher, bencana tersebut berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung sebelumnya, mengingat sekitar delapan juta warga Venezuela sudah membutuhkan bantuan bahkan sebelum gempa terjadi.
Sementara itu, sejumlah negara di kawasan Amerika dan Amerika Latin menyatakan kesiapannya membantu Venezuela.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui unggahan di Truth Social menyampaikan belasungkawa atas tragedi tersebut dan menegaskan bahwa pemerintah AS siap mengirimkan bantuan secepat mungkin.
Sementara Wakil Menteri Luar Negeri AS bidang Bantuan Luar Negeri, Jeremy Lewin, mengatakan negaranya akan mengirim tim SAR, bantuan medis, dan logistik kemanusiaan.
Presiden El Salvador Nayib Bukele juga mengumumkan kesiapan negaranya mengirim 50 ton peralatan dan logistik serta 300 personel SAR ke Caracas.
Dukungan serupa disampaikan Presiden Ekuador Daniel Noboa Azin, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, serta Menteri Luar Negeri Meksiko Roberto Velasco Álvarez.
Di dalam negeri, Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello memastikan seluruh unsur keamanan, perlindungan sipil, relawan, pemadam kebakaran, dan kepolisian telah dikerahkan untuk menangani dampak bencana.
Pemerintah juga menghentikan sementara pasokan gas alam di sejumlah wilayah guna mencegah kebakaran maupun ledakan, sementara gangguan listrik dan layanan internet masih terjadi di beberapa kota.
Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas memastikan seluruh tiga warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela dalam kondisi aman, sehat, dan selamat.
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, mengatakan gedung KBRI Caracas maupun Wisma Duta tidak mengalami kerusakan struktural yang berarti. Jalur komunikasi darurat juga telah dibuka untuk terus memantau kondisi WNI di wilayah terdampak.
Sementara itu, jurnalis BBC Mundo Nicole Koster yang berada di Caracas menggambarkan gempa tersebut sebagai guncangan paling kuat yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Ia mengaku mendengar teriakan minta tolong dari balik reruntuhan sesaat setelah gempa mengguncang ibu kota.
Menurut Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Venezuela berada di kawasan aktif seismik yang merupakan pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan.
USGS menjelaskan gempa kedua dipicu oleh pergeseran patahan mendatar dangkal di dekat batas kedua lempeng tersebut dan memperingatkan bahwa gempa susulan berkekuatan signifikan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.(asy*).









