Palangka Raya, Jentik.id– Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam sepekan terakhir, tercatat sebanyak 72.431 warga mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dari jumlah tersebut, Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 16.166 kasus.
Kondisi tersebut terjadi di tengah kualitas udara yang memburuk akibat kepulan asap karhutla.
Berdasarkan data Air Quality Index (AQI) pada Jumat pagi pukul 07.51 WIB, kualitas udara di Palangka Raya tercatat mencapai 128 AQI, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, Yaesar Wawan, mengatakan musim kemarau yang disertai kabut asap menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
“Musim kemarau dan kabut asap akibat karhutla saat ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat, terutama ISPA. Selain ISPA, masyarakat juga perlu mewaspadai penyakit lain seperti DBD dan diare,” kata Wawan.
Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, terutama saat melakukan aktivitas di luar maupun di dalam rumah ketika kualitas udara memburuk.
Wawan juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker sebagai salah satu langkah perlindungan dari paparan asap dan partikel udara. Selain itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara sedang tidak sehat.
Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan, seperti batuk, pilek, sesak napas, nyeri tenggorokan, atau gejala lain yang mengarah pada gangguan pernapasan, diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, sekaligus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla agar dampak asap terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.(asy*)









