Jakarta, jentik.id – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) pernah mendorong seorang pejabat di Indonesia mengambil langkah sederhana namun berani. Ketua DPRD Bandung saat itu, Mohammad Aten Hawadi, memilih meninggalkan mobil dinas dan beralih menggunakan sepeda demi menghemat anggaran.
Peristiwa ini terjadi pada akhir 1950-an ketika kondisi ekonomi Indonesia mengalami tekanan berat. Harga kebutuhan pokok naik drastis. Harga beras mencapai sekitar Rp10 per liter, sementara minyak tanah berada di kisaran Rp1 hingga Rp1,5 per liter. Pada saat yang sama, harga BBM melonjak dari Rp1 menjadi Rp1,75 hingga Rp2 per liter.
Kenaikan harga tersebut memperberat beban keuangan negara. Pemerintah menghadapi defisit anggaran hingga Rp6 miliar. Situasi semakin sulit karena berbagai pergolakan di daerah yang ikut mengganggu stabilitas ekonomi dan politik.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Bandung. Pasokan BBM mulai terbatas akibat kendala distribusi dari Jakarta. Kelangkaan ini mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan lainnya.
Melihat situasi tersebut, Aten Hawadi mengambil langkah yang tidak biasa. Ia mengembalikan mobil dinas yang selama ini ia gunakan dan menggantinya dengan sepeda merek Raleigh untuk aktivitas sehari-hari.
Padahal, sebagai Ketua DPRD Bandung, ia berhak menggunakan mobil dinas sedan Plymouth lengkap dengan sopir dan biaya operasional dari negara. Namun, ia menilai fasilitas tersebut terlalu membebani anggaran di tengah krisis.
Keputusan ini membuatnya berbeda dari banyak pejabat lain. Saat sebagian masih menggunakan fasilitas negara, Aten memilih hidup sederhana dan menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat.
Langkah tersebut memberikan dampak nyata. Pemerintah daerah berhasil menghemat anggaran hingga Rp18 ribu per tahun, jumlah yang cukup besar pada masa itu.
Sikap Aten Hawadi kemudian menjadi contoh nyata efisiensi dan kepedulian pejabat publik di tengah krisis ekonomi dan lonjakan harga BBM. (nr*)









