Stop Tren Freestyle Handstand pada Anak, Siswa SD di Lombok Timur Jadi Korban

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 7 Mei 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi freestyle handstand

ilustrasi freestyle handstand

LOMBOK TIMUR, jentik.id – Tren freestyle gerakan handstand kembali marak di kalangan anak-anak dan kini menimbulkan kekhawatiran serius. Aktivitas ini bahkan memakan korban seorang siswa sekolah dasar di Lombok Timur.

Tren tersebut banyak muncul dari konten media sosial dan permainan daring. Di platform seperti TikTok, kata kunci “freestyle” menampilkan berbagai video anak-anak yang melakukan gerakan handstand di berbagai tempat.

Sebelumnya, gerakan ini sempat viral pada 2021. Saat itu, anak-anak melakukannya saat beribadah. Namun kini, anak-anak melakukan handstand di ruang publik tanpa pengawasan.

Bahkan, beberapa anak melakukan aksi tersebut di depan orang tua maupun guru. Kondisi ini membuat risiko cedera semakin tinggi karena tidak ada kontrol keselamatan.

Baca Juga :  Berenang, Bocah 7 Tahun Tenggelam di Danau Singkarak.

Risiko Cedera pada Anak

Gerakan handstand membutuhkan kekuatan dan keseimbangan tubuh yang baik. Namun, anak-anak belum memiliki struktur tulang dan otot yang cukup kuat untuk menahan beban tubuh secara penuh.

Dokter menjelaskan risiko cedera dapat terjadi pada pergelangan tangan, bahu, hingga leher. Tekanan berlebih bisa menyebabkan keseleo, pergeseran sendi, bahkan patah tulang.

Selain itu, risiko jatuh dengan kepala terbentur juga cukup tinggi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan memar, pendarahan, hingga gegar otak.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Naik Rp7.000, Kini Tembus Rp2,85 Juta per Gram

Butuh Latihan dan Pengawasan

Gerakan handstand sebenarnya membutuhkan latihan khusus dan pengawasan profesional. Tanpa persiapan yang tepat, tubuh sangat mudah mengalami cedera.

Bahkan atlet atau pelaku berpengalaman pun masih berisiko cedera jika melakukan gerakan secara berlebihan atau tidak terkontrol.

Imbauan untuk Orang Tua

Tren ini menjadi perhatian serius karena menyasar anak-anak. Orang tua dan guru diminta lebih waspada serta mengawasi aktivitas anak di rumah maupun sekolah.

Pengawasan ketat dinilai penting untuk mencegah anak mencoba gerakan berbahaya yang dapat mengancam keselamatan mereka. (nr*)

Berita Terkait

Teh Kemasan Berbusa Saat Demo Viral, Polisi Telusuri Pihak yang Membagikan
KPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara Triliunan Rupiah dalam Kasus Cukai PT Djarum
Dakwaan Silmy Karim Ungkap Uang Klik, Saham Rp 31 Miliar hingga Biaya Kuliah S3
Amran Bongkar Dugaan Pengoplosan 600 Ton Beras SPHP, Kerugian Capai Rp3,3 Miliar
Amran Bertindak Tegas! 8 Pejabat Bapanas-Bulog Dicopot Buntut Dugaan Penyelewengan Beras SPHP
Kepala BGN Klaim Hemat Anggaran MBG Rp44 Triliun, Tutup 2.000 Dapur Bermasalah
BGN Siapkan Pejabat Daerah Setingkat Kapolres hingga Kapolda, Ini Tugasnya
Mentan Amran Bongkar Dugaan Pengalihan Beras SPHP Jadi Premium di Jakarta Timur
Berita ini 78 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:42 WIB

KPK Ungkap Dugaan Kerugian Negara Triliunan Rupiah dalam Kasus Cukai PT Djarum

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Dakwaan Silmy Karim Ungkap Uang Klik, Saham Rp 31 Miliar hingga Biaya Kuliah S3

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Amran Bongkar Dugaan Pengoplosan 600 Ton Beras SPHP, Kerugian Capai Rp3,3 Miliar

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Amran Bertindak Tegas! 8 Pejabat Bapanas-Bulog Dicopot Buntut Dugaan Penyelewengan Beras SPHP

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Kepala BGN Klaim Hemat Anggaran MBG Rp44 Triliun, Tutup 2.000 Dapur Bermasalah

Berita Terbaru