Generasi Muda Ketagihan Kopi, Benarkah Sudah Terjebak Ketergantungan Kafein?

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 3 Juni 2026 - 08:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi ketergantungan kafein generasi muda anak muda minum kopi.Photo by GPT AI

Ilustrasi ketergantungan kafein generasi muda anak muda minum kopi.Photo by GPT AI

Jakarta, jentik.id-Fenomena ketergantungan kafein pada generasi muda semakin terlihat jelas. Banyak anak muda kini menjadikan kopi sebagai bagian dari rutinitas harian, bahkan merasa sulit menjalani hari tanpa asupan kafein.

Indonesia sendiri masuk lima besar negara dengan konsumsi kopi tertinggi di dunia. Konsumsi kopi dalam negeri juga terus naik sekitar 5 persen setiap tahun, dan generasi muda mendorong pertumbuhan tersebut.

Kopi Jadi Gaya Hidup Anak Muda

Data menunjukkan sekitar 40 persen pembeli kopi di Indonesia berasal dari remaja dan dewasa muda. Mereka banyak mengonsumsi kopi susu dengan tambahan gula dan sirup.

Kedai kopi kini berubah fungsi. Mahasiswa, pelajar, hingga pekerja muda menjadikannya tempat belajar, bekerja, dan bersosialisasi. Tren ini membuat konsumsi kopi semakin meningkat, sekaligus meningkatkan risiko ketergantungan kafein tanpa disadari.

Cara Kafein Bekerja di Otak

Kafein memblokir reseptor adenosin di otak yang memicu rasa kantuk. Akibatnya, tubuh terasa lebih segar dan fokus meningkat karena dopamin dan norepinefrin tetap aktif lebih lama.

Baca Juga :  Jakarta Temukan 4 Kasus Hantavirus, Satu Pasien Kini Jalani Isolasi

Namun, tubuh menyesuaikan diri dengan meningkatkan jumlah reseptor adenosin saat konsumsi kafein berlangsung terus-menerus. Kondisi ini membuat seseorang membutuhkan dosis kafein lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama.

Gejala Ketika Berhenti Minum Kafein

Saat seseorang mengurangi atau menghentikan konsumsi kafein secara tiba-tiba, gejala putus kafein bisa muncul. Gejala ini meliputi sakit kepala, mudah marah, kelelahan, sulit konsentrasi, hingga perubahan suasana hati.

Panduan diagnostik internasional DSM-5 juga mengakui caffeine withdrawal sebagai kondisi medis. Gejala biasanya muncul dalam 24 jam setelah konsumsi kafein dihentikan.

Remaja, mahasiswa, dan pekerja dengan jam kerja tidak teratur termasuk kelompok yang paling rentan mengalami dampak ini karena pola tidur yang buruk dan konsumsi kafein yang tinggi.

Batas Aman Konsumsi Kafein

Food and Drug Administration (FDA) menetapkan batas aman kafein sekitar 400 mg per hari untuk orang dewasa, atau setara tiga hingga empat cangkir kopi.

Baca Juga :  Warning! Hewan Peliharaan Berpotensi Menularkan Penyakit kepada Pemilik, Ini Penjelasan Ahli

Namun, minuman kopi modern seperti kopi susu kekinian dan minuman energi membuat batas ini mudah terlampaui tanpa disadari.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan konsumsi kafein berlebihan berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk. Siklus ini sering berulang: kurang tidur membuat seseorang minum kopi lebih banyak, lalu konsumsi kafein justru mengganggu tidur berikutnya.

Cara Mengurangi Ketergantungan

Para ahli menyarankan pengurangan konsumsi kafein secara bertahap, bukan berhenti secara mendadak. Seseorang bisa mengganti sebagian kopi dengan air putih atau teh herbal.

Selain itu, perbaikan pola tidur menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan jangka panjang.

Dalam pandangan nilai spiritual, menjaga kesehatan tubuh dari hal yang merugikan menjadi hal penting untuk diperhatikan. Kesadaran terhadap batas konsumsi kafein membantu seseorang menjaga keseimbangan gaya hidup.

Kopi tetap bisa dikonsumsi, tetapi dalam batas wajar. Ketika minum kopi berubah menjadi kebutuhan mutlak, di situlah risiko ketergantungan mulai muncul. (nr*)

Berita Terkait

SPPG Tak Penuhi Standar Akan Ditutup, Sudaryono, Wartawan dan Masyarakat Dipersilakan Mengawasi
Pemkot Sungai Penuh Perkuat Program Sanitasi Pengelolaan Sampah dan Air Limbah Menuju Kota Adipura 2028
Ratusan Anak Ikuti Sunat Massal Gratis yang Digelar Minang Kerinci di RSUD Bhakri Kota Sungai Penuh
Spanyol Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Lebih dari 1.000 Orang Meninggal Dunia
Warning! Hewan Peliharaan Berpotensi Menularkan Penyakit kepada Pemilik, Ini Penjelasan Ahli
Anak Kejang? Hindari Memasukkan Sendok ke Mulut, Begini Pertolongan Pertama yang Tepat
Ujung Tombak Pelayanan Dasar Kesehatan Dinilai Masih Jauh dari Harapan, Peran Kadinkes Disorot
Wali Kota Alfin  Soroti Puskesmas Tanah Kampung Paling kumuh Kadiskes Jangan Duduk Belakang Meja Saja
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:23 WIB

SPPG Tak Penuhi Standar Akan Ditutup, Sudaryono, Wartawan dan Masyarakat Dipersilakan Mengawasi

Kamis, 16 Juli 2026 - 20:22 WIB

Pemkot Sungai Penuh Perkuat Program Sanitasi Pengelolaan Sampah dan Air Limbah Menuju Kota Adipura 2028

Selasa, 7 Juli 2026 - 10:25 WIB

Ratusan Anak Ikuti Sunat Massal Gratis yang Digelar Minang Kerinci di RSUD Bhakri Kota Sungai Penuh

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:18 WIB

Spanyol Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Lebih dari 1.000 Orang Meninggal Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 - 13:03 WIB

Warning! Hewan Peliharaan Berpotensi Menularkan Penyakit kepada Pemilik, Ini Penjelasan Ahli

Berita Terbaru