Sungai Penuh, jentik.id-Harga cabai merah dan cabai rawit di Pasar Tradisional Tanjung Bajure, Kota Sungai Penuh, serta sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Kerinci, mengalami lonjakan tajam dalam sepekan terakhir.
Harga kedua komoditas tersebut kini berkisar Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Kenaikan ini dikeluhkan pedagang maupun pembeli karena berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
Wiwit, salah seorang pedagang bumbu dapur di Pasar Tradisional Tanjung Bajure, Rabu (14/10/2026), mengatakan harga cabai sebelumnya masih relatif terjangkau. Cabai merah dijual sekitar Rp35 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit merah berkisar Rp45 ribu per kilogram.”jelasnya
“Sekarang harga cabai sudah naik drastis. Banyak pembeli yang mengeluh dan protes karena harganya semakin mahal,” ujar Wiwit.
Menurutnya, kenaikan harga diduga dipengaruhi terbatasnya pasokan akibat kondisi cuaca panas dan tingginya permintaan masyarakat.
“Barangnya sekarang terbatas, sementara peminatnya banyak. Kemungkinan kondisi cuaca juga memengaruhi pasokan sehingga harga terus naik,” jelasnya.
Selain cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga mengalami perubahan.
” Ida, pedagang lainnya, menyebutkan harga bawang merah yang super sebelumnya sekitar Rp12 ribu per kilogram kini mencapai Rp19 ribu per kilogram, bergantung pada jenis dan kualitasnya.
Sementara itu, bawang berukuran kecil dijual sekitar Rp12 ribu per kilogram.
“Hatga jual kentang, ayam potong dan telur masih kondisi stabil naiknya tidak seberapa masih terjangkau.
“Sementra Harga Beras Ikut Naik, Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas bumbu dapur, tetapi juga beras.
“Suryarlri, salah seorang pedagang beras, mengatakan kenaikan harga telah berlangsung secara bertahap selama sekitar tiga pekan terakhir dan terjadi pada berbagai jenis beras.
Menurutnya, beras yang sebelumnya dijual Rp240 ribu per kaleng atau setara 16 kilogram kini mencapai Rp250 ribu hingga Rp260 ribu per kaleng.
Ia menambahkan, kenaikan harga tersebut diduga berkaitan dengan kondisi pertanian yang terdampak kekeringan pada musim kemarau. Selain itu, pasokan beras dari pemasok juga mengalami penurunan.
“Biasanya dalam seminggu kami bisa menerima pasokan sampai tiga kuintal. Sekarang jumlahnya tidak lebih dari satu kuintal,” ungkapnya.
Warga Berharap Harga Kembali Stabil, Lonjakan harga kebutuhan pokok tersebut turut membebani masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang harus mengatur pengeluaran agar tetap mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Siti, salah seorang warga, mengatakan beras dan cabai tetap harus dibeli meskipun harganya semakin mahal. Untuk menyiasatinya, masyarakat terpaksa mengurangi jumlah belanja.
“Maunya harga murah, tetapi sekarang semuanya mahal.
Beras tetap harus dibeli karena merupakan kebutuhan pokok. Harapannya, harga bisa kembali turun,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Murti. Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok, terlebih pendapatan masyarakat belum mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan harga barang.
“Harapannya harga bisa stabil. Pendapatan kami belum naik, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus meningkat,” katanya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pangan di pasar tradisional.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga pasokan serta meringankan beban masyarakat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok.(asy*)









