Jakarta, jentik.id–Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, mengingatkan pentingnya penguatan kedaulatan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin memanas.
Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi “Dialektika Demokrasi” di Kompleks Parlemen, Jakarta. Ia menegaskan, Indonesia harus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri sebagai negara bebas aktif di tengah tekanan dan tarik-menarik kepentingan global.
Pentingnya Kedaulatan Nasional di Tengah Geopolitik
Menurut Dave, konflik global yang berkepanjangan menuntut Indonesia bersikap adaptif tanpa kehilangan prinsip dalam menjaga kepentingan nasional.
“Indonesia tidak boleh terseret ke dalam blok kekuatan mana pun,” ujarnya.
Konflik Rusia–Ukraina dan Keterlibatan Global
Ia menyoroti konflik Perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Menurutnya, konflik itu menunjukkan keterlibatan berbagai aktor global di luar kedua negara tersebut.
“Jika hanya Rusia dan Ukraina, konflik ini seharusnya sudah selesai sejak lama. Namun faktanya, banyak negara menyuplai persenjataan, teknologi, bahkan mengirim personel,” jelasnya.
Risiko WNI Menjadi Tentara Bayaran
Dave juga mengingatkan risiko keterlibatan warga negara asing, termasuk dari Indonesia, dalam konflik bersenjata sebagai tentara bayaran. Ia menilai sebagian orang tergiur imbalan finansial meskipun risikonya sangat tinggi.
Ketegangan Timur Tengah dan Stabilitas Iran
Ia juga menyoroti eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Meski demikian, Iran tetap menjaga stabilitas internalnya.
“Meski terjadi pergantian kepemimpinan secara cepat, Iran tetap mengedepankan ideologi dan tidak mengkultuskan individu,” katanya.
Dampak Geopolitik terhadap Ekonomi dan Energi
Lebih lanjut, Dave menilai dinamika geopolitik turut memengaruhi ekonomi global, terutama fluktuasi harga energi. Namun, ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam meredam dampak tersebut.
“Pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, berhasil menahan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi melalui pengelolaan APBN yang baik,” ujarnya.
Ancaman Hibrida dan Laut China Selatan
Ia juga mengingatkan potensi ancaman hibrida yang harus diantisipasi, termasuk dampak konflik di kawasan Laut China Selatan serta ketegangan antara China dan Taiwan.
Menjaga Keseimbangan Hubungan Global
Dalam konteks itu, Dave menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan internasional, mengingat posisi strategis Indonesia di tengah persaingan global.
“China menjadi mitra dagang utama Indonesia. Namun, kita juga membutuhkan dukungan teknologi dan kerja sama dari Amerika Serikat serta Eropa. Karena itu, Indonesia harus menjaga keseimbangan hubungan,” tegasnya.
Peran Indonesia dalam Mendorong Perdamaian Dunia
Ia menambahkan, Indonesia perlu terus memperkuat peran di forum internasional untuk mendorong solusi damai yang konkret dan berkelanjutan.
“Sebagai negara dengan politik bebas aktif, Indonesia harus terus mendorong solusi permanen bagi konflik global. Kita tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus menghasilkan perdamaian nyata,” tutupnya. (Red/*)









