JAMBI, jentik.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus mengancam kesehatan masyarakat. Di Kota Jambi, BPBD mencatat 13.729 kasus penyakit yang berkaitan dengan dampak kabut asap, dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebagai kasus terbanyak.
Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, menyebutkan bahwa ISPA mencapai 11.795 kasus hingga Senin (12/10/2026). Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit lain yang juga muncul selama kabut asap melanda wilayah tersebut.
Selain ISPA, BPBD Kota Jambi mencatat 1.405 kasus diare dan 528 kasus konjungtivitis atau peradangan pada mata.
Data tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Wali Kota Jambi, Maulana, turut menyoroti tingginya angka penyakit di tengah memburuknya kualitas udara. Menurutnya, peningkatan polusi membuat semakin banyak warga berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Berdasarkan pemantauan pada Senin (12/10/2026) pukul 13.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Jambi mencapai 277. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
Salah satu polutan yang perlu mendapat perhatian adalah PM2.5, yaitu partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan partikel ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, terutama jika berlangsung dalam waktu lama.
Maulana mengingatkan masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Langkah tersebut penting untuk membatasi paparan asap dan menekan risiko gangguan pernapasan.
Masyarakat juga perlu memantau perkembangan kualitas udara serta menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah. Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih selama kondisi kabut asap berlangsung.
Pemerintah mengimbau warga untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala lain yang memburuk.
Dengan meningkatnya kasus penyakit dan tingginya tingkat pencemaran udara, masyarakat diharapkan lebih waspada hingga kondisi udara kembali membaik.(nr*)









