New Delhi, jentik.id-Lima bayi orangutan ditemukan petugas kehutanan di sebuah hutan di Distrik Balasore, Negara Bagian Odisha, India timur, saat melakukan patroli pekan lalu.
Orangutan merupakan satwa dilindungi yang habitat alaminya berada di Indonesia dan Malaysia, khususnya Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Temuan tersebut memicu penyelidikan terkait dugaan penyelundupan satwa liar lintas negara.
Pemerintah Indonesia meminta otoritas India menelusuri asal-usul kelima orangutan tersebut dan memulangkannya apabila terbukti berasal dari Indonesia.
Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Odisha, Ganesh Ram Singh Khuntia, mengatakan orangutan tidak memiliki habitat alami di India.
Pemerintah setempat menduga satwa tersebut sengaja dilepas oleh sindikat perdagangan satwa liar internasional.
Kasus ini menambah daftar temuan satwa eksotis yang diselundupkan ke India. Data TRAFFIC mencatat 7.272 satwa, baik hidup maupun mati, disita dari bagasi penumpang dalam upaya penyelundupan antara Thailand dan India sepanjang Januari 2022 hingga Mei 2025. Lebih dari 80 persen penyitaan terjadi di India.
Satwa yang diselundupkan antara lain reptil, burung, dan mamalia yang diduga diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan eksotis.
Peneliti konservasi Uttara Mendiratta mengatakan perdagangan ilegal satwa liar ke India mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi jumlah maupun jenis satwa yang diperdagangkan.
Selain jalur udara, penyelundupan juga diduga memanfaatkan jalur darat melalui kawasan perbatasan India dengan Myanmar dan Bangladesh. Thailand dan Malaysia disebut menjadi salah satu sumber utama perdagangan melalui jalur udara.
Perkembangan media sosial juga dinilai membuka ruang baru bagi perdagangan satwa eksotis. Pasar digital yang minim pengawasan memungkinkan penjual dan pembeli bertransaksi serta memamerkan koleksi satwa secara daring.
Pihak konservasi menilai penyitaan satwa seharusnya menjadi awal penyelidikan untuk mengungkap pemasok, pengatur distribusi, pendana, hingga pembeli yang berada di balik jaringan perdagangan ilegal tersebut.(asy*)









